RE-LIFE (HIDUP KEMBALI)

Bisa dibilang, aku sudah terlalu banyak menonton anime dengan berbagai genre yang ada. Ah, namun masih kalah banyak dengan mereka yang menganggap dirinya adalah otaku. Beberapa genre yang aku sukai dalam anime adalah action, slice of life dan pada puncaknya adalah harem. Hehehe. Salah satu anime yang menarik untuk ditonton adalah Re-Life. Sempat pesimis suka dengan anime ini, karena diangkat dari web comic. Ternyata saya suka, saya suka, saya suka. Re-Life menceritakan seorang lelaki berumur 27 tahun yang bernama *rahasia* sedang dalam masa-masa pencarian kerja. Sebenarnya tokoh utama di sini sudah pernah kerja di suatu perusahaan selama tiga bulan, karena sesuatu yang tidak sesuai dengan kata hatinya, menyebabkan dia resign dari pekerjaannya yang baru dijalani sekitar tiga bulan. Setelah resign dari perusahaan tersebut, tokoh utama menjadi seorang job seeker. Namun, dia mengaku pada teman-temannya sudah bekerja di suatu tempat. Padahal BOHONG. Suatu ketika, perjalanan pulang dari wawancara kerja, dia dihampiri seseorang yang bernama *rahasia lagi* dan memberikan sebuah penawaran yang menggiurkan. Bekerja kontrak selama satu tahun, dan biaya kehidupan selama bekerja ditanggung oleh perusahaan. Siapa yang tidak mau?
Share on:

KETIKA PENYELESAIAN JANUR MELENGKUNG LEBIH SULIT DARIPADA PERSAMAAN GARIS LENGKUNG

Kelapa sing tak tandur,
Limang tahun sing kepungkur,
Uwis tukul godhonge wis dadi janur,
Janur sing semampir ana ing ngarep omahmu,
Nanging sing nyanding kowe dudu awakku,
Dudu aku.

Baru saja dengar lagu itu dari salah satu stasiun radio di Kota Madiun. Terpikir kemudian, kenapa harus janur? Kenapa tidak daun anggur? Kenapa tidak daun pisang? Toh mereka semua adalah keluarga daun. Apa tidak pilih kasih apabila janur didaulat sebagai simbol pernikahan? Bagaimana dengan bunga Raflesia yang lebih dikenal dengan bunga bangkai? Mungkin akan jadi simbol acara kematian. Tapi tidak. Ah, entah kenapa harus janur. Aku pun tidak mau tahu.
Share on:

LARI

Coba tebak, sudah berapa lama aku tidak lari dengan serius? Enam tahun. Yah, walaupun setiap harinya bisa dibilang serius lari dari kenyataan. Hehehe. Tapi bukan itu, lari yang sebenarnya lari, lari menggunakan kaki.

Enam tahun yang lalu ketika masih di SMA, saat itu keinginan untuk lari sangat kuat. Selain lari dari kenyataan bahwa tidak punya pacar, lari untuk tes ujian akhir pelajaran olahraga harus lulus. Selain dua hal tadi, latihan lari dipersiapkan untuk tes masuk STAN Bea Cukai dan PLN. Alhamdulillah, akhirnya diterima di IKIP PGRI Madiun (yang sekarang berubah namanya menjadi UNIPMA) yang sedikitpun tidak membutuhkan kemampuan lari. kesimpulannya adalah, latihan lari yang sia-sia. Selain tidak bisa masuk ke STAN Bea Cukai dan PLN, waktu itu masih belum bisa move on dari mantan pacar. Oh My God, untuk apa coba latihan lari dari kenyataan kalau hasilnya nihil? Ah, maksudku juga latihan lari yang sesungguhnya.
Share on:

ANIME

Ketika membaca kata “anime”, apa yang terbersit di pikiran masing- masing? Doraemon, Chibi Maruko-chan, Shin-chan, Digimon, Pokemon, Inuyasha, dan masih banyak lagi. Yap, beberapa anime yang populer bagi anak yang lahir sekitar tahun ’90-an. Sesungguhnya masih banyak anime dengan genre yang lebih serius daripada judul yang telah disebutkan tadi. Aku sangat suka dengan anime Digimon, sampai sekarang. Oleh sebab itu, gambar yang aku sertakan adalah gambar anime Digimon. Sebut saja, 5 cm per second. Salah satu anime yang bikin baper tujuh keliling. Ada juga anime lawas yang judulnya School Days, anime yang bikin merinding. Bukan karena genre horror yang diusung, karena alur cerita yang ‘spesial’.
Share on:

MAAF


MAAF
By: Mahardika26

Hai, seseorang di masa lalu
Maafkan aku
Akhirnya aku mengerti banyak hal tentangku
Tentangku, bukan tentangmu
Tentangku yang buta akan masa lalu
Masa laluku, bukan masa lalumu
Share on:

SAYA RINDU

Saya pun sedikit bertanya pada saya sendiri. Apa hubungan judul dengan gambar yang saya sertakan? Apa hubungannya judul dengan gambar karpet? Yah, mungkin saya menghubungkannya terlalu jauh. Saya rindu pada karpet masjid atau mushala yang warnanya hijau, kuning, merah, atau karpet sejenis yang polos. Saya rindu berdiri berhimpitan dengan orang lain ketika membentuk saf ketika shalat. Saat ini, banyak masjid hingga mushala yang sudah semakin kekinian, menggunakan karpet yang bergambar masjid. Oke sih, memang karpet tersebut dapat memperindah masjid dan mushala. Namun, menurutku penggunaan karpet tersebut harus ditinjau ulang.
Share on: