Senin, 23 Mei 2016

GOLONGAN DARAH

Banyak yang berpikir bahwa menentukan sikap berdasarkan golongan darah adalah hal yang bego bego gimana gitu, tapi aku percaya bahwa sedikit banyak golongan darah membawa genetika sendiri untuk bersikap. Salah satu temanku malah ada yang berpendapat mempercayai hal itu adalah hal yang menyekutukan Tuhan, mempercayai ramalan, sama dengan zodiak. Oh my god, mereka pandang dari sisi mana sih? Sikap boss, zodiak pun sama. Bukan tentang ramalan hari ini, asmara membaik, keuangan memburuk, hindari air. Bisa-bisa kagak mandi. Bukan tentang ramalannya, tapi tentang penelitian sikap. Seperti kalau kita anggap bahwa anak pertama lebih bertanggung jawab, tegas, bisa mengayomi. Anak bungsu lebih manja, diperhatikan, dan kebersamaan. Walaupun semuanya tidak seperti itu, tapi sudah banyak yang mempercayai. Kenapa? Karena sudah bisa dititeni, alias diperhatikan selama kurun waktu tertentu menunjukkan gejala yang sama. Masa seperti itu mau dibilang menyekutukan Sang Pencipta? Golongan darah pun, sudah pernah di teliti melalui uji coba sikap di Jepang dan Korea. Walaupun aku juga lupa sih, bagaimana dan siapa peneliti itu. Hehehe. Terserah mau bilang apa mereka, yang penting aku mau curhat. Hehehe.

Aku adalah cowok yang bergolongan darah O. Aku tahu bahwa aku adalah golongan O ketika kegiatan donor darah di sekolah. Bagaimana seorang aku yang takut dengan jarum suntik bisa ikut donor darah? Yah, karena aku ketua kelas. Ketua kelas segedhe ini, masa gak ikut donor? Apa kata dunia?
Aku yang golongan O ini seharusnya memiliki sikap yang sewajarnya O, tapi sepertinya tidak.

Golongan A.
Meskipun secara medis aku dikatakan golongan O, tapi secara pribadi aku adalah golongan A. Kenapa? Golongan A yang ingin sekali tepat waktu, terstruktur dalam kegiatan, tidak mau rencana yang sudah dibuat berantakan, keras kepala juga. Hampir semua sifat dalam golongan A ada pada diriku. Apakah aku sebenarnya adalah golongan A?
Aku suka sekali pada orang yang ontime, dan tidak lelet. Dan jika ada janji pun, aku pasti datang paling tidak 5 menit sebelum waktunya, atau biasa disebut dengan intime. Padahal menurut penelitian, golongan O adalah orangbyang sulit tepat waktu. Hm.... jangan-jangan aku golongan A.

Golongan B.
Selain merasa jadi golongan A, aku juga merasakan jadi golongan B juga. Mengerikan, sebenarnya aku golongannya siapa sih? Hahaha.
Untuk imajinasi, bisa dibilang tinggi, apalagi tentang berkhayal, aku jagonya. Meskipun aku perpikir logis, tapi angan-anganku untuk jadi Kamen Rider masih ada, dan masih sering membayangkan jika aku punya digimon sendiri. Imajinasi yang luar biasa dan khayalan tingkat tinghi adalah spesialis dari B, apa aku golongan B? Terkadang aku juga pelupa dan acuh pada sekitar. Ah, ini benar-benar golongan B yang punya. Sebenarnya golongan mana aku ini?

Golongan AB.
Golongan ini adalah golongan yang super sekali. Menkritik tiada tara dan komentar apa adanya, selain itu kadang juga out of the box. Aku kalau diajak mencari kesalahan orang, mungkin aku juaranya, seharusnya gak bangga sih, tapi mau gimana lagi? Komentar pahit pun aku berikan meskipun yang tanya itu tidak minta.

Golongan O.
Meskipun aku mirip dengan golongan lain, tetapi aku tetaplah golobgan O yang keras kepala, suka sekali dengan visi yang jelas, jika misi tak terlaksana suka menyerah. Yah, aku bersyukur jadi golongang manapun.

Golongan darah tidak hanya satu-satunya faktor yang menjadi penentu sikap dan sifat seseorang. Ada lingkungan sekitar, ada pengalaman pribadi, ada pendidikan yang mendasari, ada faktor genetika, dan banyak hal lain yang melandasinya. Apapun golongan darah kita, tetap berbuat baik pada sesama dan tunduk pada Sang Pencipta. Aamiin.

TENTANG CURHAT

Aku yang terkenal gampang galau dan gampang banget terbawa perasaan (baper) tapi banyak teman yang mempercayakan rahasianya padaku. Yah, meskipun bukan dalam bentuk password / pin ATM sih, lebih spesifik pada masalah ketika mereka curhat. Yuuuups, curhat. Kadang aku pun ya bingung harus jawab gimana, toh aku ya masih seumuran mereka, mungkin hanya terpaut waktu 10 tahun paling jauh umurku dengan mereka. Aku pun sebenarnya tidak professional dalam hal ini, sekolah psikologi pun hanya sampai semester 0 (baca: tidak kuliah jurusan psikologi), mungkin wajahku yang keliatan lebih tua (hahaha) dan kelihatan garang (garang darimana?) Membuat mereka percaya saja padaku untuk menampung segala keluh dan kesah yang mereka rasakan. Banyak hal yang sudah diceritakan, mulai dari keluarga, finansial, hubungan (yang paling sering diceritakan), sampai masalah keagamaan (manalah aku tahu banyak tentang hal ini, mondok aja kagak). Jadi, kalau masalah keagamaan yang ditanyakan, mending aku lebih banyak menghindar. Soalnya kapabilitasku dalam hal keagamaan masih kurang. Untuk hal-hal yang membutuhkan penafsiran tingkat tinggi, dan tidak boleh berpendapat asal-asalan, biasanya aku menolak menjawab. Tapi ya gitu deh, masih saja ada yang tanya.

Karena hal itu, dapat sebutan baru, Mario Tegar (plesetan dari Mario Teguh). Setegar-tegarnya aku, aku tetap rapuh jika sendiri. Hahaha. Berbagi sedikit pengalaman, biar tidak hanya aku yang diajak curhat, biar orang lain juga dicurhati. Ada beberapa tahap yang aku lakukan ketika ada orang yang curhat padaku.

Pertama, tanyakan kabar mereka,  dan tenangkan mereka terlebih dahulu. Ada banyak kalimat penenang yang lebih ampuh daripada asam mefenamat atau obat penghilang nyeri lainnya, seperti: "ada apa? Tumben kok wajahnya suntuk?", "wah, wajah ditekuk, mata bertumpuk, pasti ada masalah. Ada apa? Tidak apa kan?". Beberapa kalimat tanya tersebut lebih akrab dan mudah dipahami daripada "bagaimana kabarnya?". Pasti ada yang jawab "tidak apa-apa", jangan paksa mereka yang menjawab seperti itu, gunakan kata halus supaya mereka mau cerita, seperti "ya sudah, kalau tidak apa-apa. Tapi, semua sehat kan? Baik-baik saja?". Gunakan kata halus untuk memaksa mereka bercerita. Nanti pasti cerita, beri mereka ketenangan terlebih dahulu.

Kedua, baca (yang lewat chat), dengarkan (yang lewat pembicaraan), dan pandang (yang lewat ketemu langsung) orang yang bercerita. Mereka akan senang ketika cerita mereka di dengar. Tidak perlu menyela ketika mereka berbicara, kecuali kalau emak memanggil, atau pelayan kafe datang. Hehehe. Berikan tanggapan yang antusias dan berhubungan dengan masalah yang diceritakan, jangan sampai mengalihkan pembicaraan. Kecuali kalau ada beberapa rahasia yang ingin diungkap, gunakan trik sulap, yaitu pengalih perhatian. Ah, kapan-kapan saja dibahas. Ingat, selalu memerhatikan yang bercerita, beri waktu lebih untuk bercerita.

Ketiga, jadilah seperti mereka yang bercerita, rasakan apa yang mereka rasa, bayangkan apa yang telah mereka lakukan. Bayangkan jika kita yamg merasakannya dan mengalaminya. Pada tahap ini, adalah tahap yang tersulit. Terutama yang belum pernah mengalami. Tetapi, tetaplah berusaha unuk merasakannya. Biasanya sih, kalau aku berlagak mikir, merem-merem gak jelas. Hahaha

Keempat, berilah dia sisi positifnya, yaitu beritahu sikap-sikap dia yang benar dalam menghadapi masalah tersebut. TAPI INGAT !!! JANGAN PERNAH MEMBENARKAN PERBUATAN MEREKA YANG SALAH ATAS DASAR SOLIDARITAS. Katakan yang salah itu adalah salah, yang benar itu adalah benar. Prinsip utama dalam menjadi pendengar curhat yang baik seperti itu. JANGAN HANYA MENYENANGKAN HATI MEREKA YANG CURHAT, TAPI TUNJUKILAH MEREKA JALAN YANG BENAR.

Kelima, berilah mereka pendapatmu yang dapat membangun sikap mereka untuk menemukan solusi masalah mereka, jangan mendikte, atau menyuruh mereka untuk melakukan yang kamu mau. Walaupun ujungnya akan seperti itu. Buat mereka seperti menyadari bahwa yang akan mereka lakukan itu timbul dari hati mereka, kita hanya sebagai fasilitator saja. Katakan yang pahit itu adalah pahit, dan selingi dengan yang manis (sikap positif yang telah dilakukannya).

Keenam, bersikaplah netral. Jangan mendukung sepenuhnya yang dilakukannya. Pasti ada sisi negatif yang dilakukan. Begitu pula tentang masalah yang dihadapinya, ada sisi positif dan sisi negatif. Ungkapkan itu semua. Ingat, mereka yang curhat pada kita mungkin hanya ingin mendapat PEMBENARAN atas perbuatan yang dilakukannya. Jangan lakukan itu, bersikap netral, dan berikan masukan positif serta membangun untuk mereka. Jika salah, bilang salah. Jika benar, bilang benar.

Itu tadi beberapa kalimat tidak jelas tentang curhat. Jika ada kurangnya, mohon dimaafkan dan mari kita berdiskusi bersama. Semoga kita semua dapat menjadi pribadi yang selalu welas dan asih sesama. Aamiin.

Rabu, 04 Mei 2016

ORANG BAIK ATAU BEGO

Selama ini, aku berpikir bahwa aku berusaha menjadi orang baik. Ternyata aku sedang berusaha menjadi orang bego (berlagak goblok), eh tidak berlagak sih,  tapi emang bego (bener-bener goblok). Bagaimana tidak bego kalau kamu selalu menjaga janji yang kamu buat dan kamu yakini selama bertahun-tahun, namun orang yang diajak berjanji mengingkarinya sepanjang waktu tanpa sepengetahuanmu. Bukankah hal itu membuatmu merasa bego? Atas nama azas kepercayaan kau memegang itu semua. Ah sudahlah, aku memang bukan orang yang baik dengan menjaga janji itu, seharusnya aku juga cerdas dengan mengingkari janji itu tanpa sepengetahuannya. Yah, mungkin statusku yang lulusan sarjana masih dipertanyakan, seorang lulusan sarjana yang masih terikat janji masa lalu. Ah, Mahar, harusnya kau juga berusaha mengingkarinya. Selasa, 4 Mei 2016. Kaget bukan main ketika kutanyakan hal "itu" pada seseorang yang kuanggap ikut bertanggung jawab pada janji yang dibuat bersama. Hasilnya tetap nihil, sesuai dugaan awal yang berpikir bahwa pasti semua sudah terlupa. Apakah jadi orang baik sekarang tidaklah dibutuhkan?

Pada garis kritis tipis sebuah keimanan, aku bertanya pada Sang Pencipta, apa aku kurang dalam menyembah-Nya? Sehingga seringkali Dia memberikan serangkaian rasa sakit, dan letanya ada pada "hati". Apakah aku kurang dalam berbuat baik? Sehingga Dia kirimkan beberapa orang "jahat" yang selalu saja membuatku sakit. Ah, Mahar, imanmu masih lemah jika mempertanyakan hal itu. Apakah itu berarti seorang Mahar dalam berbuat baik dan menyembah-Nya tidak ikhlas? Mahar ikhlas dalam hal menyembah-Nya dan berbuat baik pada semua orang, namun pikiran kotor seorang Mahar yang berada di garis kritis keimanan kadang bertanya-tanya. Kemana hasil semua hal baik yang aku lakukan? Kurangkah? Dimana imbalan ibadah yang telah dilakukan? Kurang khusyukkah? Ah, Mahar, kamu orang yang tidak bersyukur. Setiap hari kamu diberi napas, keluarga, hari cerah, kesehatan, dan banyak hal yang indah lainnya tidak terlihat. Perhatikan lebih detail untuk mensyukuri nikmatNya.

Yah, hal itu juga didapat oleh semua orang, pikirku, seorang Mahar yang tidak bersyukur. Sudahlah Mahar, jadi orang baik memang sulit, lebih sulit jika harus jadi orang baik yang tidak terlihat. Tidak usah mempertanyakan kemana semua hal yang telah kamu lakukan, termasuk ibadahmu, Tuhan telah menghitungnya, sebagai amalan yang ikhlas atau hanya amalan yang dipamerkan semata. Tetap jadi orang baik, karena mereka yang baik akan dipertemukan dengan yang baik, mereka yang tidak baik akan dihadapkan pada hal yang tidak baik pula.

Aku pun jadi bertanya, kapan? Apa harus melewati orang yang tidak baik berkali-kali terlebih dahulu, baru dapat yang baik sesuai ukuranku? Harus berapa kali ketemu yang tidak baik? Sudahlah, pasti tidak ada yang bisa menjawab.

Selasa, 19 April 2016

SAKIT EPISODE 2

Berawal dari 14 April 2016 jam 14.00 WIB, perut sebelah kanan terasa nyeri. Tidak tahu mengapa, ada firasat buruk tentang hal ini, lalu cari informasi lebih lengkap lewat google. Ya Allah, setelah baca beberapa informasi, jika merasakan nyeri di bagian itu, kemungkinan besar bisa jadi sakit usus buntu, liver, batu ginjal, batu empedu, dan masih banyak dugaan yang lain. Shock memang membaca artikel di internet. Sore jam 17.30 WIB pada hari yang sama, aku periksa di tempat praktik dokter dekat rumah. Sebelum diperiksa oleh dokter, ada seorang assisten yang menyanyakan apa keluhanku dan memeriksa tekanan darahku, dan hasilnya sangat mengejutkan. Siastole dan diastole 150 berbanding 90, tergolong hipertensi tingkat satu. Mbak yang memeriksa pun kaget juga, masih muda kok darah tinggi? Malu bukan main.

Mari tinggalkan mbak cantik yang memeriksa tekanan darahku tadi, fokus pada dokter cantik (waktu masih muda) yang memeriksa sakit apa aku ini. Setelah perutku ditempeli stetoskop, beliau hanya berujar, "mungkin ini hanya kram perut, tapi perlu observasi lebih lanjut."
Saat itulah aku mulai tambah resah, sang dokter bilang seperti itu, hanya untuk menenangkan perasaanku. Dari beliau aku hanya dapat obat asam mefenamat untuk meredakaran rasa nyeri dan obat-obat putih yang kagak tau untuk apa itu. Aku hanya berharap semoga cepat sembuh.

Jumat, 15 april 2016 aku tidak ikut shalat jumat di masjid. Yah, bagaimana mau ikut shalat jumat? Bangun dari tidur aja tidak bisa, apalagi mau koprol-koprol kayak biasanya. Saat itu, siang entah jam berapa, aku ingin minum air bening, aku harus ambil air donk. Aku gak mau ngerepotin yang ada di rumah, aku hidup aja mereka udah repot, masa aku minta tolong. Yoooosh dengan semangat membara, setelah berjalan sejauh 100cm aku terjatuh lagi. Benar-benar sakit dan tidak kuat lagi. Ahamdulillah, bapak dan ibukku yang selalu ada langsung memijat yelapak kaki, dan telapak tangan. Hingga sore aku tertidur di kamar bapak dan ibuku.
Malam hari, banyak anggota keluarga berkumpul, berdiskusi langkah selanjutnya yang harus diambil. Akhirnya, diambil kesimpulan besok pagi kembali periksa ke dokter, kemudian pijat urat di tempat ahli pijat terpercaya. Malam itu, aku tidak bisa tidur, dan kurang tidur. Entah sakit apa, perutku nyeri.

Pagi hari, pukul 06.00 WIB tanggal 16 April 2016 sebenarnya hari itu cerah dan indah, bagiku sakit. Lebih pada sakit nyeri pada perut kayak anak cewek yang lagi M. Pagi hari aku periksa kembali ke dokter, dan diberi rujukan ke rumah sakit kota di Kota Madiun. Beliau menduga bahwa aku sakit usus buntu, tapi heran karena gejalanya tidak seperti sakit usus buntu. Pulang dari dokter, beberapa jam kemudian, aku pijat urat. Berharap beliau dapat mengurangi rasa sakit yang timbul di perutku. Alhamdulillah, setelah pijat selama lebih kutang 1,5 jam nyeriku berangsur hilang hingga 70%. Seharusnya hari ini langsung ke Paviliun Merpati untuk check lebih lanjut, tapi aku memutuskan untuk menunggu sampai hari senin. Karena, selain sudah siang, siapa tahu aja berangsur sembuh. Harapan besar pada hasil pijit dari beliau, malam itu aku tidur lebih nyenyak daripada hari-hari sebelumnya.

Hari ini bingung, bagaimana mau ke Paviliun Merpati, bingung karena bagaimana berangkatnya. Akhirnya, Senin 18 April 2016 pukul 8.30 WIB berangkat ke Paviliun Merpati dengan dua motor. Aku dengan kakak keponakan, sedangkan ibuku naik motor sendirian. Kenapa gak naik mobil? Siapa yang nyupir.
Di Paviliun Merpati, setelah antri tidak begitu lama, diperiksa oleh beliau dokter Arianti. Beliau tinggi, putih, cantik dan rambutnya yang curly gantung. Hari itu beliau mengenakan baju batik berwarna hijau cerah dihiasi senyum manis khas dokter wanita yang elegan. Setelah menutup kelambu, beliau memintaku untuk telentang di kasur dan menekuk kakiku. Beliau mulai menekan-nekan perut dari yang kiri hingga kanan, sakit itu ketika perut kanan ditekan, dan beliau bilang, "dugaan saya saat ini batu empedu, semoga tidak terjadi apa-apa hanya sakit kram perut saja."
Beliau juga membesarkan hati ibuku yang saat itu duduk di sampingku mendengar keterangan dari bu dokter. Ah iya, ada kakak keponakanku di situ, tapi bukan yang mengantarku berangkat tadi. Dia bekerja di RSU Soedono Madiun, berjasa besar sekali ketika aku sedang berada lingkungan medis seperti ini. Mulai dari menunjukkan tempat periksa, tempat USG, dan tempat yang lain.

Setelah diperiksa, aku menuju ruang USG dan menunggu di sana sangat lama. Hampir 1,5 jam. Ternyata, dokter yang memeriksa via USG nanti adalah dokter Ifa/Iva (aku gak tau pakai V apa pakai F). Diperiksa menggunakan USG, diolesi gel, geli gimana rasanya. Beliau mengatakan bahwa untuk prostat, ginjal, dan beberapa organ lain sehat dan normal. Sayangnya, hati dan limpa mengalami pembengkakan. Ya Allah, apalagi ini, diagnosis yang berbeda-beda membuat takut, sebenarnya aku sakit apa. Aku bilang makasih pada beliau yang berjilbab hijau, gamis biru cantik, masih muda, dan telah meng-USG aku, kemudian aku kembali ke ruang periksa awal. Namun, bu dokter Arianti tidak ada di tempat. Akhirnya perawat yang membacakan hasilnya, dan diminta untuk check darah di laboratorium.

Di rumah, setelah aku check di Paviliun Merpati, aku mencari informasi tentang pembengkakan hati. Kaget sangat waktu membaca artikel yang membahas itu adalah awal atau gejala yang ditimbulkan oleh sakit sirosis hati, dan hepatitis B. Salah satu penyakit yang mematikan tanpa diketahui gejalanya, dan biasa disebut SILENT KILLER karena bisa membunuh secara diam-diam.

Ya Allah, tolong sembuhkanlah hambaMu yang penuh dosa ini, belum cukup bekalku untuk menghadapMu. Masih ada orang yang aku sayang untuk aku bahagiakan, masih ada orang yang aku sayang untuk aku rawat, masih ada orang yang aku sayang untuk aku dukung, mereka keluargaku. Ya Allah, sembuhkanlah aku yang penuh salah ini. Aamiin.