RE-LIFE (HIDUP KEMBALI)

Bisa dibilang, aku sudah terlalu banyak menonton anime dengan berbagai genre yang ada. Ah, namun masih kalah banyak dengan mereka yang menganggap dirinya adalah otaku. Beberapa genre yang aku sukai dalam anime adalah action, slice of life dan pada puncaknya adalah harem. Hehehe. Salah satu anime yang menarik untuk ditonton adalah Re-Life. Sempat pesimis suka dengan anime ini, karena diangkat dari web comic. Ternyata saya suka, saya suka, saya suka. Re-Life menceritakan seorang lelaki berumur 27 tahun yang bernama *rahasia* sedang dalam masa-masa pencarian kerja. Sebenarnya tokoh utama di sini sudah pernah kerja di suatu perusahaan selama tiga bulan, karena sesuatu yang tidak sesuai dengan kata hatinya, menyebabkan dia resign dari pekerjaannya yang baru dijalani sekitar tiga bulan. Setelah resign dari perusahaan tersebut, tokoh utama menjadi seorang job seeker. Namun, dia mengaku pada teman-temannya sudah bekerja di suatu tempat. Padahal BOHONG. Suatu ketika, perjalanan pulang dari wawancara kerja, dia dihampiri seseorang yang bernama *rahasia lagi* dan memberikan sebuah penawaran yang menggiurkan. Bekerja kontrak selama satu tahun, dan biaya kehidupan selama bekerja ditanggung oleh perusahaan. Siapa yang tidak mau?


Anime RE-LIFE
Kenapa harus disebut dengan RE-LIFE? Karena tokoh utama bekerja di perusahaan tersebut sebagai subjek percobaan yang mengharuskan subjek percobaan tersebut menelan sebuah obat yang menjadikannya seseorang yang berumur 17 tahun dan menjalani kehidupan di SMA. Tujuan utama dari RE-LIFE adalah mengubah kebiasaan buruk dan mengubah pola pikir yang katanya “dewasa” namun sebenarnya adalah “takut”. Apa maksudnya? Di pikiran “dewasa” kita, ada saat-saat dimana kita mengikuti sebuah peraturan atau kebiasaan yang bertentangan di hati kita. Kita takut untuk mengungkapkan pendapat dan takut untuk mempertanyakan hal yang “tabu” tersebut. Kita takut bahwa penilaian orang lain terhadap kita menjadi buruk karena mempertanyakan hal yang tabu, kita takut atasan akan membenci kita dan dipersulit dalam pekerjaan karena kita bertindak tidak sesuai dengan hal-hal tabu yang ada di perusahaan. Sehingga kita mengikuti saja “permainan” yang dilakukan oleh orang lain dan kita bermain aman supaya posisi kita tidak terganggu dan tidak tergoyahkan. Sebenarnya dengan bersikap seperti itu, kita benar-benar sudah “dewasa” atau hanya “takut” tidak mendapat penghasilan?

Anime RE-LIFE ini mengajarkan padaku banyak hal. Salah satunya adalah pemikiran kita di masa kecil itu lebih bebas daripada ketika kita di masa yang kita sebut “dewasa”, dan aku mengakui hal tersebut. Coba tengok masa-masa kita saat sekolah dasar (SD), pada saat teman kita kesusahan secara otomatis kita langsung membantu tanpa memikirkan resiko dan akibat yang akan diterima. Jaman SD dahulu, masih ada yang namanya “drop-drop’an”. Ketika salah satu temanmu disakiti, maka kamu sebagai teman yang solidaritasnya tinggi, bakal membalas perlakuan terhadap orang lain yang menyakiti teman kita. Tidak perduli dengan omelan dari guru, tidak perduli dengan nilai raport yang di bawah angka 5,dan tidak perduli dengan tulisan di raport dicap “nakal”. Ketika kita mendapat tugas piket harian, siswa yang tidak mendapat jadwal piket sering membantu. Ketika ketua membawa buku LKS yang bayak untuk guru, ada siswa lain yang dengan rela membantu membawa. Bukan karena nilai, hanya empati dan rasa ingin membantu. Coba kita bandingkan dengan dunia yang kita bilang “dewasa” ini, semua sibuk dengan urusannya massing-masing. Semua hanya perduli dengan “jobdesc” masing-masing. Jika bukan dari pekerjaannya tidak mau membantu. Itukah dunia “dewasa” kita?

Sebenarnya masih banyak pesan yang disampaikan oleh anime RE-LIFE ini. Namun, akan lebih afdol kalau menonton sendiri anime tersebut. Supaya lebih dapet feelnya. Hehehe. Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah benarkah kita sudah dewasa yang seutuhnya? ataukah kita hanya takut kalau kita disebut anak kecil?
Share on:

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan tanggapan anda melalui kotak komentar di bawah ini