PACIT ANVENTURE

Kamis siang sebelum keberangkatan ke negeri antah berantah, segala hal yang kiranya diperlukan di negeri tersebut mulai dipersiapkan dan dijejalkan di dalam tas. Tas palazzo yang hanya muat 4 liter ini dipaksa untuk menelan barang bawaan lebih dari 4 liter, mulai dari dua buah celana jeans, lima buah kaos polo, perlengkapan mandi, dan handuk beruang kesayangan. Sebenarnya ada juga “daleman” yang tidak mungkin aku tuliskan di sini, “saru”. Menurut kamus bahasa yang belum pernah diterbitkan, saru adalah sebuah kata sifat yang memiliki arti sebuah bahan pembicaraan tidak baik untuk diperbincangkan. Setelah tas palazzo besar itu melahap semua barang pribadi yang akan di bawa, berpindah pada tas palazzo kecil pemberian sang mantan. Ukurannya yang mungil cukup catchy untuk disampirkan di bahu sebelah kanan. Isi dari tas kecil ini tak lain hanya charger handphone, charger kamera digital, dan beberapa baterai cadangan untuk kamera. Terimakasih buat sang mantan karena sudah memikirkan masa depanku bersama tas ini yang kemudian menjadi sangat bermanfaat bisa dibawa kemana-mana.


Jumat pagi, delapan jam sebelum keberangkatan. Bersih-bersih mobil dan mengelus-elus body mobil menjadi kegiatan yang lumayan menghabiskan banyak waktu dan menyita banyak energi. Untung saja bersih-bersih dan mengelus mobil dibantu oleh mas-mas pencucian mobil. Jadi aku Cuma nonton dari kejauhan sambil baca koran Surya tertanggal 28 Maret 2017. Dalam koran tersebut ada hal mengusik pikiran, salah satu iklan yang selalu muncul dengan gambar laki-laki berjambang yang lebih mirip seperti pimpinan sekte garis keras daripada laki-laki macho. Misalkan saja ketika mandi dan memakai ramuan itu, terus dengan tidak sengaja botol tersebut tumpah tepat pada “anu”, apakah si “anu” bakalan berjambang juga? Kata “anu” dalam kamus bahasa yang belum pernah diterbitkan memiliki arti sebuah kata benda yang masih ambigu. Hehehe. Entah kenapa, berkhayal ternyata memutar jarum jam sampai setengah perjalanan dalam satu jam, dan akhirnya mas-mas yang membantuku mengelus-elus mobil memberitahu kalau mobil sudah kinclong bagaikan mobil baru. Yah, itu kata mas-masnya, masa mobil Kijang LGX tahun 1998 mau disamai dengan mobil H-RV tahun 2016? Eh kebalik ya? Hehehe.

“Sial”, kadang dalam hati aku ingin mengumpat hal seperti itu. Yah, karena mengumpat dalam hati itu adalah hal yang tidak baik, akhirnya aku mengumpat di luar hati, aku salah bawa flash disk. Flash disk yang seharusnya cuman jadi konsumsi pribadi yang isinya adalah lagu galau sepanjang masa malah tertancap dengan gagahnya di peralatan audio mobil. What the tit sangat ketika harus mendengar lagu Cinta Dari Jauh milik Cassandra diiringi hujan rintik yang deras. Baper mode on 100%. Sore itu rombongan berangkat sekitar jam 16.00 WIB alias jam empat sore. Rombongan terbagi dalam tiga mobil. Mobil pertama, Daihatsu Xenia yang berisi enam orang, mobil kedua Daihatsu Luxio yang berisi entah orang berapa. Dan terakhir adalah mobil Toyota Kijang LGX yang berisi tujuh orang. Tiga orang cowok dan empat orang cewek.

Sebut saja Echo, pengemudi di mobil kami yang sudah punya istri baru satu dan masih belum ada rencana nambah lagi. Entah, karakter apa yang harus aku gambarkan untuk si sopir ini. cowok yang humoris dan entah kenapa dia lebih mirip anak mapala daripada pramuka. Bayu, adalah Afgannya kantor kami, yah yang menyebut dia Afgan siapa aku juga tidak tahu. Lebih mirip Almarhum Deddy Dores, daripada Afgan, hehehe. Cewek pertama dan duduk paling depan adalah Imo, mudah tidur di mobil, mungkin karena teller mabuk darat. Di deretan tengah paling kiri ada Mbak Yani, Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia jebolan Universitas PGRI Madiun. Kerennya, mbak Yani ini orangnya supel dan bercandanya tepat sasaran. Paling kanan ada Mbak Atik, sohibnya Mbak Yani. Mbak yang kalem, dan bicaranya halus, sempat takjub beberapa saat dan langsung ingat kalau bulan depan mbaknya mau nikah. Pindah ke sisi tengah, ada Binti Nur Laili alias “bon bin”. Nama yang indah dengan arti cahaya malam berubah menjadi kebon binatang. Bukan salahku juga sih, ada asal muasal dari sebutan itu. mungkin perjalanan kami ini sebenarnya juga dalam daftar farewell trip untuk bon bin. Bon Bin mulai pertengahan Bulan april ini tidak lagi mengisi bangku kantor yang menghadap barat, bon bin mau ke jakarta. Belum lama kenal Bon bin, dan tidak kenal juga dengan bon bin. Tapi yang aku tahu, bon bin adalah cewek yang apa adanya. bon bin pernah dapat penghargaan duta hemat nasional dari rekan-rekan se-ruangan karena sesuatu. Hehehe.

Sempat berpikir bahwa di Pacitan aku bakalan dirukiyah (Ruqyah). Sekitar jam 20.00 WIB melewati gapura besar bertuliskan kawasan Pondok Tremas, Pacitan. Kami menginap di salah dua rumah milik penduduk lingkungan tersebut. Salah dua karena rumah untuk menginap anggota laki-laki berbeda dengan rumah yang digunakan untuk menginap anggota perempuan. Sesampainya di sana kami disambut dengan hangat oleh teh. Ya, benar. Teh yang hangat. Kami di sana memang sangat membutuhkan sebuah kehangatan, dalam arti yang sebenarnya tentunya. Masih ingat dengan tas palazzo yang aku jejali kaos polo? Setelah hampir empat jam berdesakan dan menahan hawa pengap di belakang mobil, akhirnya dapat berpindah tempat di ruangan yang lebih luas. Kami memasukkan seluruh barang bawaan kami ke dalam rumah yang penuh dengan kehangatan.
Berfoto Bersama

Sebagai pembukaan, leader kami memberikan sepatah dua patah, hingga berpatah-patah kata untuk perkenalan. Mulai dari yang asalnya Kediri, Madiun, dan Magetan. Memang, HO (Head Office) berada di Magetan, jadi perkenalannya staff yang ada di Magetan. Kami sempat mengabadikan momen bersama, dengan mengambil gambar. Dari acara berfoto bersama inilah muncul istilah baru, “simulasi”. Terlalu banyak simulasi ternyata juga tidak terlalu bagus, karena ketika pada waktunya, baterai kamera habis karena banyak “simulasi”. Untung, masih ada kamera lain yang bisa digunakan untuk mengambil gambar.
Leader sedang memberikan pengarahan

Tercium aroma yang menggairahkan dari ruang sebelah, yah walaupun kata “menggairahkan” di sini lebih condong pada urusan perut. Aroma semerbak sate ayam serta sambal kacang tanah yang aduhai menggoda rongga perut untuk bernyanyi. Mungkin kalau rongga perut ini bisa nyanyi beneran, mungkin sudah jadi penyanyi “One Hits Wonder”. Rasa sate ayam benar-benar nikmat ketika dilumuri saus kacang yang yummy, tekstur lembut dari daging ayam yang dipanggang atau lebih tepatnya dibakar tidak menyulitkan gigi yang udah berumur ini untuk mengunyah, sedap.

Sedang makan sate

Ternyata, setelah makan malam tersebut, kami tidak diminta tidur. Kami ke tempat pertama untuk tujuan perjalanan ini, Pemandian air panas. Nanti, lain waktu akan aku lanjut cerita perjalanan di Pacitan ini. Cerita fiksi ini terinspirasi dari pengalaman non-fiksi. Jika masih ingat, akan aku lanjut ceritanya ketika di pemandian air panas, ketika di sungai maron, dan destinasi lainnya.
Share on:

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan tanggapan anda melalui kotak komentar di bawah ini