RAGIL, SUKA ATAU DUKA?

"Ragil, hei. Baru pulang kuliah?" Sapa Rini sambil lambaikan tangan mungilnya.
"Inggih mbak, nembe mantuk saking kuliah. Lho? Sampeyan ugi sampun mantuk nyambut damel?" jawab Ragil dengan sopannya.*
"Hahahaha. Rahasia" Masih saja Rini tak mampu jawab pertanyaan itu, gak ngerti artinya. Rini yang selalu jawab rahasia ketika ditanya menggunakan bahasa Jawa.

Ada hal lain yang lebih penting daripada jawaban Rini yang selalu rahasia, ini blog bukan untuk cerpen, tapi cercol.(Curcol kaleeeee) Hahahaha.
Pernah merasakan jadi anak bungsu? atau dalam bahasa jawa disebut ragil. Bagi yang pernah, angkat tangannya (mana keliatan?). postingan kali ini membahas tentang anak ragil dari perspektif diriku.
jadi anak bungsu itu enak, dimanja, diperhatikan lebih, dikasih banyak kemudahan, lebih disayang, dan preketek-preketek lain masih banyak. Kata orang sih gitu, jadi anak ragil enak, mau minta apa aja dikasih, mau perhatian lebih dijabanin, perfect dah anak ragil, kata orang. Itu semua kata mereka, bisa jadi bungsu itu lebih banyak diperhatikan daripada pembarep alias sulung. Namun, tahukah sebenarnya tentang bungsu?

Jadi anak ragil itu gak enak, menurutku. Saking perhatiannya ortu ke ragil, mau ngapain aja suuuuuuuulit banget, hampir semua hal-hal aneh gak boleh dilakuin (jelaslah, aneh-aneh dilakuin? ya gak boleh). Jangan gitulah, jangan ginilah, tar kejadian ginilah, tar kejadian gitulah. mungkin tepatnya over protective kali ya? hampir semua kegiatan harus dipantau ortu, baik sih niatnya, supaya anaknya gak terjerumus, atau lebih tepatnya supaya si ragil gak merasa tersakiti. Gak percaya? Buat yang cewek, pernah dilarang pacaran ama ortu? Kenapa gak boleh? Takut kalo terjadi apa-apa diluar nikah? Takut kalau down ketika putus dengan pacar? Takut kalau pelajaran mendapat nilai buruk? Siapa yang merasakan itu semua? Si anak khan?

Si ortu gak pengen kalau anaknya mersakan sakit, jadinya gitu deh, seperti buku peraturan yang penuh dengan poin pelanggaran. Diawali dengan kata “DILARANG” dan “TIDAK BOLEH”. Berikut adalah daftar TIDAK BOLEH buat anak ragil versi Mahardika:
Tidak boleh pacaran, tar sakit hati.
Tidak boleh pulang malam, tar dikira anak nakal.
Tidak boleh maen jauh, tar lo ada apa-apa di jalan.
Tidak boleh dianter cowok / cewek pulang, tar jadi pacar, trus putus, lalu patah hati.
Tidak boleh dijemput cowok / cewek, tar kesempatan waktu boncengan.
Tidak boleh pegang HP waktu belajar malem, tar malah facebookan.

Pokoknya jadi anak bungsu itu banyak gak enaknya daripada enaknya, gak boleh makan makanan pedas, gak boleh main jauh, gak boleh pulang malam, gak boleh lain-lain. kapan coba belajar mandiri kalau terus dimanja? kapan dewasa kalau selalu mendapatkan segalanya? Fenomena anak ragil di jaman ortu sekarang masih aja ada. hadeeeh.

Jadi pilih mana? Ragil itu suka atau duka? mendapat segalanya, namun juga tidak boleh segalanya. Tapi, hal yang paling penting adalah selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki selama ini. Orang tua pasti menginginkan segala hal yang terbaik bagi anaknya, walaupun berbeda cara yang digunakan.

*Iya kak (perempuan), baru pulang dari kuliah. Lho? anda juga sudah pulang dari bekerja?
Share on:

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan tanggapan anda melalui kotak komentar di bawah ini