KETIKA DIA TAK LAGI BERSAMAMU (BAGIAN 1 : ALASAN)


The next post is “KETIKA DIA TAK LAGI BERSAMAMU”. Terlihat sedikit alay mungkin, tapi keren judulnya. Beberapa alasan yang melatarbelakangi post ini dibuat. Pertama, beberapa mantan pacar sudah mendapatkan pendamping hidup yang tepat (baca: nikah). Kedua, beberapa mantan pacar sedang berikhtiar dengan pendamping hidup yang tepat (baca: dapat pacar baru). Hahaha. Aku? Isih jomblo rek. Wis tuwek, jomblo pisan, wakakaka, Alhamdulillah. Benar-benar perfecto combo, kalau main game, dapat serangan bertubi-tubi. Alasan terakhir adalah hanya ingin berbagi pengalaman bagaimana cara mengatasi downgrade perasaan supaya tidak terlalu lama larut dalam kesedihan.


Oke, kembali lagi ke bahasan utama, ketika dia tak lagi bersamamu. Untuk yang benar-benar cowok mungkin tidak ada masalah dengan hal itu, langsung cari pendamping yang lain. Aku? Menulis hal-hal yang tidak jelas arahnya (berarti aku bukan cowok dong? Lho kok? Aku tetap cowok dong)

Alhamdulillah, Allah SWT benar-benar menyayangi seluruh makhlukNya di muka maupun di dalam bumi ini. Betapa tidak sayang Dia pada makhlukNya, aku yang selama ini lupa pada Sang Maha Pencipta namun masih diberi udara untuk bernapas, masih diberi kesehatan untuk melakukan aktivitas sehari-hari, dan masih diberi air mata untuk membersihkan mata indra dan mata hati (Cieeeeeee puitis rek……)

Tidak usah galau dengan ditinggalkannya dirimu oleh dia yang pernah menjadi pendamping hidupmu. Kenapa? Ada beberapa alasan yang patut menjadi landasan utama supaya aku tidak galau dan sadar ketika lebih baik dia pergi daripada tetap bersama.

  1. Pertama, hai Mahar, yakin kalau dia bersamamu, dia bakal bahagia?
  2. Hai mahar, bagaimana? Sudahkah dia bahagia ketika bersamamu selama ini? Aku yakin tidak, kalau dia benar-benar bahagia, seharusnya saat ini dia masih bersamamu. Kamu punya apa untuk membahagiakan dia? Kamu kerja apa? Kamu punya apa? Kamu lahir dengan tidak membawa apa-apa, namun setelah 22 tahun kau masih belum memiliki apa-apa. Bagaimana kamu bisa menjamin hidupnya ketika dia bersamamu jika kamu tidak memiliki apa-apa? Bahagia bukan hanya sekadar dari harta, atau lebih tepatnya materi. Hai Mahar, sudahkah kamu memerhatikan dia penuh perasaan? Sudahkah kamu menjadi tempatnya bersandar ketika dia tidak ingat pada Allah untuk bersandar? Jika memang benar kamu memerhatikan dia, seharusnya dia bahagia, jika memang kamu adalah sandaran baginya, tentu kamu akan menjadi pendengar yang baik ketika dia bercerita. Selama ini apa yang kamu lakukan, Mahar? Hanya bersenang-senang? Itulah kenapa dia pergi dari kamu, dia benar dengan pendapatnya bahwa dia tidak akan bahagia dirinya denganmu dengan kondisimu saat ini. Hai Mahar, kamu harus berbenah. Biarlah dia bahagia bersama orang lain, bahagiakanlah orang tuamu dan orang-orang di sekelilingmu. Biarkanlah dia bahagia bersama orang lain. Ikhlaskan.
  3. Kedua, hai Mahar, sudahkah kamu mendekatkan dirimu pada Allah SWT?
  4. Hai Mahar, seharusnya kamu bersyukur masih diperingatkan oleh Allah SWT dengan cara memisahkan dirimu dengan dirinya, kenapa? Kamu bisa introspeksi dengan apa yang sudah kamu lakukan selama ini. Ketika bersamanya, ingatkah kamu dengan Penciptamu? Aku yakin tidak. Mungkin Allah SWT sedang rindu padamu, rindu pada rintihan yang kamu panjatkan setiap malam seperti pada hari-hari sebelum kamu mengenal dia. Saat mengenalnya, apa yang kamu lakukan malam hari? BBMan, Whatsappan, Facebookan, dan twitteran? Karena Allah SWT sayang padamu, engkau dipisahkan darinya. Bukankah kamu mengingat Allah SWT hanya ketika kamu sedang bersedih dan sakit? Kamu hanya ingat pada Allah hanya ketia sedang sakit dan sedih, Allah SWT hanya ingin mengingatkanmu, Mahar. Allah SWT selalu bersamamu di setiap saat, ketika kamu senang maupun sedih. Allah hanya ingin membuatmu ingat pada bahwa kamu itu punya Tuhan, bukankah Allah sangat baik padamu diperingatkan dengan cara seperti ini. Bagaimana kalau kamu diperingatkan dengan cara sakaratul maut? Mengerikan, Mahar. Kamu harus berbenah, dekatkanlah dirimu pada Sang Maha Pencipta dan pemilik segala hal yang ada di dunia ini, jalankan perintahnya, jauhi larangannya.
  5. Ketiga, hai Mahar, sudahkah kamu berbagi dengan yang lain?
  6. Hai mahar, kamu traktir-traktir dia, sudahkah kamu traktir ibumu? Atau anggota keluargamu yang lain? Hayoooooooo…..Jjika sudah, lebih banyak mana kamu traktir dia dengan kamu mentraktir ibumu? Hayoooooooo….. jika kamu memberinya hadiah ulang tahun, sudahkah kamu memberi hadiah ulang tahun untuk ibumu? Hayoooooooo….. Lucu bukan? Beliau yang berjuang habis-habisan demi kamu, malah kamu lupakan. Mahar, Mahar, kamu pelupa. Allah mengingatkanmu pada sekelilingmu dengan cara ini. kamu lupa dengan keluarga dan sahabatmu, hanya untuk dia. Ini salah satu cara terbaik supaya kamu ingat bahwa ada orang lain yang mendukungmu, jangan-jangan ada seseorang yang memang ditakdirkan sebagai jodohmu selalu mendukungmu dari belakang, namun kamu tidak tahu. Hai Mahar, kamu harus berbenah lagi, perhatikan lingkungan sekitarmu. Mereka membutuhkanmu lebih dari yang kamu lakukan saat ini, bukankah kamu sekarang sudah free? Lakukan hal-hal yang kamu suka, perhatikan keluargamu, perhatikan lingkunganmu. Tidak usah memikirkan dia yang sudah pergi meninggalkanmu, khan sudah ada orang lain yang memikirkannya, siapa? Ya itu, penggantimu. Orang yang lebih memerhatikan dia dengan lebih baik, yang lebih berkecukupan dengan baik, yang memiliki visi lebih baik, yang lebih baik menjadi imam, yang lebih baik dalam urusan beragama, yang lebih baik dalam mendekatkan diri pada Tuhannya, yang lebih bisa membahagiakan dia yang sudah meninggalkanmu.

Bagian pertama adalah alasan, bagian kedua adalah cara. Namun belum sempat untuk menulis bagian kedua. Nanti InsyAllah.
Share on:

2 komentar:

Berikan tanggapan anda melalui kotak komentar di bawah ini