BERKIRIM AMPLOP YANG DI DALAMNYA ADA SECARIK KERTAS

Judul yang panjang? “Berkirim Amplop yang di Dalamnya Ada Secarik Kertas” ya sudah, aku singkat menjadi “SURAT-MENYURAT”. Hahaha bagaimana? Bukankah sudah lebih singkat? Bagi anak modern, ini bukanlah hal yang spesial. Bisa jadi mereka belum pernah merasakan bagaimana ‘ndredegnya’ berkirim surat. Mungkin anak modern harus baca ini supaya sedikit bisa berimajinasi tentang surat-menyurat.

Zaman sekarang ini messaging application dan social media application sudah layaknya jamur di padang pasir (eh, bukannya salah ya perumpamaan itu?) jamur di musim hujan maksudnya. Sudah banyak sekali aplikasi tersebut, apalagi sekarang zaman android merajalela. Before it was cool, secarik kertas menjadi satu-satunya media murah meriah untuk bertukar informasi. Kenapa? Karena zaman dahulu (sekitar tahun 2003) tarif sms sangat mahal, bayangkan untuk setiap sms tarifnya adalah Rp150 tanpa bonus sms, hahaha.

Bandingkan dengan zaman sekarang ini, cukup beli paket internet, bisa pakai BBM, Whatsapp, Line, Viber, Kakaotalk, dan messaging app lainnya yang sangat mudah dan sangat instant. Sekarang kamu kirim pesan, tidak perlu menunggu hingga tiga detik pesan yang dikirim sudah sampai di tujuan. Bagaimana cepat bukan, anak modern sekarang ini sudah bisa menikmati fasilitas tersebut. Bagaimana dengan beberapa tahun yang lalu?

Sebelum messaging app membludak seperti sekarang ini, mari tengok sekitar tahun 2004 hingga tahun 2005, ada apa di sana? Masih ingat dengan MIG33? Bagi mereka yang memiliki aplikasi MIG33 di HPnya merupakan anak gaul di zamannya. Aplikasi chatting di HP java dan Symbian yang sangat populer di zamannya. Bisa chatting dengan orang luar negeri di mana pun tempatnya. dan tidak membutuhkan paket internet seperti saat ini. Dahulu transfer data di HP masih dalam hitungan Kilo Byte (KB), jadi tidak terlalu memakan pulsa banyak-banyak.

Bagaimana dengan MIRC? Ada yang pernah dengar? Aplikasi chatting di komputer yang penuh nama alay. Tapi zaman dahulu masih belum kenal kata “alay”. Ada juga Yahoo Messenger (YM). Namun, sayangnya kekurangan dari MIRC dan YM adalah harus mantengin layar kotak besar (baca: monitor). Jadi gak bisa realtime.

Setelah bahas yang digital, mari dibahas “mother of messaging app”, apakah itu? Yang jelas adalah : kertas, pena, amplop, perangko. Ini nih yang aku rindu dari surat, ada sense dan taste tersendiri. Apa sajakah itu?

Surat-menyurat mengajariku untuk menulis. Benar itu, melihat tulisanku yang sekarang ini adalah hasil dari seringnya menulis di kertas. Bagaimana kalau aku tidak pernah menulis di kertas itu? Tentu tulisanku lebih unik daripada saat ini. INGAT! TIDAK ADA TULISAN JELEK. SETIAP TULISAN MEMILIKI JENIS “FONTNYA” MASING-MASING. Ketika menulis surat untuk seseorang, relakah tulisan yang dikirim tersebut kurang jelas untuk dibaca? (baca: malu tulisan jelek unik) tentu tidak mau, oleh sebab itu ada rasa tersendiri ketika gugup menulis setiap huruf di kertas supaya terlihat bagus.

Surat-menyurat mengajariku untuk belajar bahasa. Selain tulisan, pemilihan kata dalam penulisan (diksi) harus tepat. Kenapa? Karena pada zaman dahulu kalimat “aku menyukaimu” dan “aku mencintaimu” memiliki derajat yang berbeda. Mungkin sekarang sudah terlalu mengalami generalisasi, hingga kurang menyentuh artinya. Zaman surat membuat para anak muda itu berperan sebagai Kahlil Gibran muda, puitis dan sangat memerhatikan rima. Fungsinya apa? Supaya yang membaca surat itu bisa terhanyut dalam tulisan dalam surat.

Surat-menyurat itu membuatku “ndredeg”. Apa itu “ndredeg”? Ndredeg itu adalah perasaan ketika jantung berdegup lebih kencang dari biasanya, otak selalu memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan hal tersebut, dan yang paling penting itu adalah ndredeg itu memiliki dua sisi mata uang. Dua sisi mata uang pada surat-menyurat adalah jika balasan surat adalah hal baik, merasakan kesenangan yang tiada tara. Apabila balasan surat adalah hal buruk, tahu sendiri bagaimana akhirnya nanti. Kenapa bisa memberi efek seperti itu?

Inilah yang membuat surat-menyurat berbeda dan memiliki kekurangan yang bisa dijadikan kelebihan. Surat yang dikirim, belum tentu satu minggu sudah sampai di tempatnya. Apalagi jika surat tersebut dibalas, sudah berapa lama menunggu? Iya jika surat tersebut dibalas, jika tidak? Nah, penasaran bukan? Dahulu aku juga seperti itu. Rasa penasaran dan ndredeg itulah yang membuat sebuah surat itu berharga. Ketika ada Pak Pos mampir, pasti pikiran menuju ke balasan surat yang dikirim, padahal belum tentu. Hahaha.

Jadi, yang membuat surat-menyurat unik dan memorable adalah waktu menunggu surat tersebut dibalas, dan isi dari surat balasan tersebut. sebenarnya masih ada hal-hal lain tentang enaknya surat-menyurat, namun bingung apa yang harus ditulis. Hehehe.

Rindu masa-masa itu.
Share on:

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan tanggapan anda melalui kotak komentar di bawah ini