KONTAK YANG MENGGODAKU

Hari ini adalah puncak, ya benar sekali jika dibilang adalah puncak segalanya. Terdengar alay memang, namun anak tahun ‘90-an tidak mengenal kata alay. Elu mau curhat kayak apapun modelnya, hanya akan menjadi curhat biasa, tidak ada kata alay.

Kontak dengan nama Z-S***, selama ini memang tidak pernah terhapus dari kontak HPku, walaupun aku selalu pura-pura telah menghapus namamu di daftar kontak HPku. Pernah suatu ketika nomormu hanya tertulis sebagai nomormu, karena waktu itu aku harus screen shoot salah satu chat antara kamu dan aku. Terlihat bodoh memang, namun aku hanya ingin meyakinkanmu bahwa aku sudah melupakanmu dan tak menyimpan secuil tentang dirimu. Yah, sudah melupakanmu aku berharap kamu berpikir seperti itu. Pernah juga suatu ketika aku bilang padamu segala sesuatu tentangmu aku simpan di tempat terbaik. Terlihat konyol memang, karena semua tentangmu sebenarnya masih tertata apik di tempat semula. Yah, begitulah. Aku tidak tega untuk menyingkirkan itu semua.

Tapi apa yang aku katakan padamu? Aku hapus namamu, aku buang seluruh barang-barangmu, aku berusaha bersikap kasar padamu, supaya kamu membenciku. Iya, supaya kamu membenciku dan tidak menghubungiku. Masih ingatkah kamu kata-kata kasar dariku? Aku yakin masih ingat, karena kamu tidak bisa menerimaku karena “hal itu”. Ada secuil rasa senang ketika tahu kamu lebih membenciku. Namun, aku ingin sepenuhnya. Ingatkah kalau aku bilang kalau kamu itu pengecut? Pasti kamu masih sakit dan selamanya mungkin sakit karena itu. Sejujurnya, mungkin akulah yang sebenarnya pengecut. Melihat halaman Facebookmu, melihat status BBMmu, melihat status Linemu, melihat namamu di kontakku sebenarnya membuatku takut. Aku hapus akun Lineku, saat aku tahu kamu punya line, aku non-aktifkan akun BBMku karena aku sudah janji tidak akan menghapus akun BBMmu dari kontak BBMku, dan aku hidden pembaruan facebookmu karena aku kadang iri ketika melihat fotomu. Pengecut bukan? Namun di luar sana banyak yang tidak mengetahui itu. Aku hanya bilang gaptek, gaptek, dan gaptek.

Namamu yang selalu ada di HPku, namamu di dalam HPku selalu menggodaku untuk menghubungimu, membuatku selalu saja ingin telepon ataupun chat lewat whatsapp. Walaupun akhirnya aku urungkan niat itu, aku hanya tak ingin mengenalmu lagi. Tahukah kamu kenapa ada huruf “Z-” di depan namamu? Karena aku tidak ingin menemukan namamu ketika aku membuka daftar kontakku. Jika kamu nge-chat aku duluan, aku pasti balas secepat mungkin. Namun, aku tidak berani nge-chat kamu duluan. Pengecut bukan?

Kenapa aku harus lakukan ini padamu? Aku tahu bahwa ini bukanlah salahmu, namun aku lampiaskan padamu. Masih saja aku belum bisa minta maaf padamu tentang ini. Beberapa tahun yang lalu, aku pernah sakit. Yah, aku pernah sakit. Setelah hampir 1,5 tahun memiliki pasangan akhirnya harus berpisah. Hampir dengan alasan yang sama, keluarga. Ketika semua sudah dekat sesuai dengan yang diharapkan, namun sayangnya pikiran dari kedua belah pihak keluarga harus memisahkan hubungan itu. Sampai saat ini, aku pun masih berteman baik dengan dia, mungkin bisa disebut sahabat, walaupun tidak dekat. Namun, itulah yang membuatku sakit. Sedikit perih ketika dia bercerita tentang pasangannya yang sekarang, cerita hadiah untuk pasangannya, cerita kemiripan sifat dan perawakan. Sakit bro, itu sakit. Kemarin, salah satu dari mereka (baca: mantan pacar) datang ke rumah untuk menyampaikan langsung secara lisan undangan ke pernikahannya. Tak perlu ditulis bagaimana rasanya.

Walaupun di sampingmu aku bersikap kalem dan berasa stay cool serta bijak seperti Mari* Tegu* di Metr* TV, sakit itu tidak mungkin aku tunjukkan ketika bertemu. Lebih baik aku tidak mengenalmu daripada harus memasang wajah salah satu Ashura di hadapanmu. Keren bukan? Ketika aku terlihat tenang berada di depanmu dan melihatmu berkaca-kaca. Jika aku adalah cewek sebagai sahabatmu, mungkin aku udah nangis teriak-teriak seperti anak kecil yang mengiginkan permen kapas di pinggir jalan. Namun, aku tidak ingin membuatmu khawatir. Aku tahu, aku selalu merasakan sakit jika harus bertemu denganmu, lebih tepatnya kamu dengan duniamu.

Aku ingin mengakhiri semua itu, terutama sakitku ini. Aku sudah pernah sekali merasakan sakit seperti ini, pernah. Aku tidak ingin mengulanginya lagi. Lebih baik kamu membenciku, dan tidak menghubungiku supaya aku benar-benar tidak mengenalmu. Persetan dengan memutus silaturahmi, daripada aku berantakan seperti ini.

Aku, yang selama ini melihatmu. Namun tak ingin menyentuhmu.
Share on:

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan tanggapan anda melalui kotak komentar di bawah ini