MELUPAKAN ATAU TERLUPAKAN


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh….

Selamat berpuasa bagi yang berpuasa, dan yang belum berpuasa semoga segera berpuasa. Aamiin. Hehehe, telat kalau baru mengucapkan selamat puasa. Daripada tidak mengucapkan, mending telat. Ya tho? Semoga kita semua di bulan yang penuh dengan kebaikan ini menjadikan kita pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, dan menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab kepada kewajibannya. Aamiin.
Ini post bukan tentang doa-doa puasa sih, tapi jika diawali dengan doa khan kelihatan lebih enak dipandang.

Yupi, yupi. Adakah seseorang di sana yang memiliki kenangan buruk dan ingin melupakannya? Call me, 0303030 (baca: nol ga nol ga nol ga nol). Hehehe, gaje sangat ini post. Bingung opening seperti apa yang cocok.

Post ini muncul karena dengan tiba-tiba teringat kenangan kurang baik beberapa puluh tahun lalu, sekitar 70 tahun yang lalu mungkin (umur sekarang berapa, umur 70 tahun yang lalu berapa). Eitzzz, tapi jangan salah sangka, ini bukan soal cinta-cintaan lagi. Banyak yang berpikir masalah cinta, yah karena artikel sebelumnya memang seperti itu. hehehe.

Ini post bukan tentang cinta. Tapi kalau mau disangkut-pautkan ke cinta ya tidak apa-apa sebenarnya. Kenangan buruk remaja ababil (baca: aku) biasanya berakar pada masalah percintaan walaupun sebenarnya banyak hal yang lebih buruk dirasakan orang lain yang tidak berakar pada cinta anak kecil.

Okay, begini bro, hanya ingin sekadar berbagi saja. Aku pernah memiliki sebuah kenangan buruk. Sangat buruk sekali, hingga aku tidak mau bilang pada orang lain kalau aku punya kenangan itu (lha ini kalau tidak cerita, ya sudah sampai di sini saja post kali ini. Hahaha).

Ketika seseorang memiliki kenangan buruk, apalagi orang tersebut masih ababil, ya seperti yang menulis post ini. Salah satu jalan yang diambil adalah melupakan kenangan buruk tersebut. Okay, mengikuti pasar terbesar dalam dunia per-curhatan remaja di Indonesia, cinta-cintaan adalah pasar yang memiliki kenangan buruk terbanyak (sumber data: penelitian yang belum pernah dilakukan).

Kenapa memilih untuk melupakan? Mereka memilih melupakan karena ingin dengan segera tidak merasakan dan mengingat rasa sakit yang timbul dari kenangan tersebut. Tentu setelah mengalami kejadian tersebut, mereka berpikir bahwa kenangan tersebut memiliki dampak yang negatif bagi mereka. Sehingga mereka memilih untuk melupakan kenangan tersebut.

Ada beberapa hasil yang mengejutkan pada mereka yang ingin melupakan kenangan buruk tersebut, salah satunya adalah mereka bertambah “sakit” ketika mengingat kenangan yang ingin dilupakan. Kenapa bisa seperti itu? Mereka yang ingin melupakan sesuatu, harus kembali mengingat hal yang ingin dilupakan. Sip, benar. Untuk melupakan, kita harus mengingat. Ya, harus mengingat. Butuh waktu yang lama untuk melupakan masa lalu yang buruk, dan itu tidaklah mudah.

Bukankah lebih sakit ketika ingin melupakan, kita harus mengingat terlebih dahulu. Mau tidak mau memang harus seperti itu. Misal, kita punya kenangan buruk tentang kejadian memalukan ketika kuliah, kerja, atau masa sekolah S3 (SD, SMP, dan SMA). Masih ada yang ingat? Aku yakin masih ada yang ingat walau hanya beberapa kenangan buruk. Lalu, bukankah saat ini masih mengingatnya walaupun sudah berusaha melupakan? Yah, begitulah. Sebuah kenangan itu tidak akan hilang jika kita ingin dan berusaha keras untuk melupakannya. Karena, ketika berusaha melupakan sesuatu kamu harus mengingatnya kembali.

Karena melupakan adalah cara yang membutuhkan waktu lama dan menyakitkan (karena harus mengingat kenangan tersebut secara otomatis), maka ada jalan lain. Yupi, sesuai dengan judul di atas, terlupakan.

Terlupakan itu adalah sesuatu hal yang ingin diingat namun tidak mampu diingat. Nah loh, pernah khan zaman dahulu kala kalau ulangan itu belajar model SKS (Sinau Kebut Semalam)? Seketika hilang saat ulangan berlangsung. Terlupakan itu. Hahaha. Pengalaman pribadi ini. Yah, ini salah satu cara yang ampuh supaya kenangan masa lalu yang buruk tidak mengganggu kehidupan yang sekarang. Namun, bagaimana caranya?

Pernahkah kamu baca sebuah artikel dengan judul dan isi yang hampir mirip? Judulnya berkutat seperti “16 Cara melupakan mantan”, “Cara cepat melupakan si dia”, “Si dia pergi? Lupakan dengan cara jitu berikut”. Hehehe, ketahuan kalau sering baca artikel seperti itu. Dari judul hampir sama semua khan? Cara melupakan. Isi dari artikel tersebut tidak jauh beda, apa? “pergilah dengan sahabatmu”, “isi dengan kegiatan positif”, “lanjutkan hobimu”, dan masih banyak lagi. Bukankah artikel tersebut memiliki nada yang sama? Nada apakah itu?

Nada yang sama dari artikel tersebut adalah bukan untuk melupakan kenangan masa lalu, akan tetapi untuk mengalihkan perhatianmu dari kenangan masa lalu. Yupi, mengalihkan perhatian dan pikiran dari masa lalu. Apakah ada yang salah dengan hal itu? Tidak. Memang benar jika melakukan hal-hal tersebut kenangan masa lalu akan pergi tidak mengusikmu. Tapi ingat, itu tidak lama. Karena perhatianmu yang teralihkan sementara. Itu yang disebut terlupakan, bagiku.

Kenapa terlupakan? Karena sesaat itu kita tidak ingat apa yang terjadi zaman dahulu kala, kita tidak ingat dengan masa lalu atau hal-hal sepele lainnya. Tidak usah jauh-jauh, kita bisa lupa makan hanya karena skripsi yang harus segera diajukan pada dosen, kita lupa pada keluarga karena mengejar karier, kita lupa pada Sang Maha Pencipta, karena terbuai dengan kesuksesan yang dititipkan pada kita. Mereka terlupakan, karena kita terlalu fokus pada kegiatan yang saat itu dilakukan. Bagaimana jika kegiatanmu sudah usai? Pasti bisa jawab sendiri bagaimana hasilnya.

Kenangan-kenangan yang terlupakan tidak hilang begitu saja. Seperti data pada PC atau laptop yang terhapus dan mungkin kita tidak ingat kembali apa saja yang telah kita hapus dari hard disk laptop, bisa kita munculkan kembali, kenangan masa lalu juga bisa kembali. mereka tersimpan di otak kecil kita. Jika suatu saat ada sebuah stimulus yang merangsang otak kecil yang berhubungan dengan kenangan tersebut, secara tidak sadar kita akan mengingat kembali kenangan itu. Walaupun kenangan tersebut terlupakan sudah sekian lama. Contoh mudahnya adalah, lihat buku kenangan SMA, ketika melihat foto salah satu teman, maka akan ingat beberapa kejadian lucu, aneh, gokil, sedih, senang, marah, dan kenangan lain. Bukankah sebelum melihat foto tersebut, kita tidak ingat apa-apa? Yah karena kenangan tersebut terlupakan.

Bai nde wai, ini post sudah panjang sekali ya? Langsung pamungkas saja kalau begitu. Jika melupakan harus sakit karena mengingat, dan terlupakan harus sakit ketika diingatkan, maka salah satu cara yang paling ampuh adalah merelakan. Ya, rela memiliki kenangan tersebut.

Tidak perlu melupakan, tidak perlu dilupakan, tidak perlu terlupakan. Semua itu hanya akan membuat sakit. Aku tidak bicara tentang ikhlas, karena ikhlas adalah kerelaan tingkat tertinggi, dan itu sulit. Maka, mari merelakan apa yang sudah terjadi, semoga segala hal yang terjadi pada kita merupakan salah satu jalan yang diberikan Sang Maha Pencipta supaya kita belajar lebih bijak menyikapi hidup.

Terima kasih, semoga tidak emosi membaca post yang tidak beraturan ini. Semua hal yang ada di post ini adalah murni pendapat saya pribadi, bukan untuk hal-hal yang buruk. Jika berbeda pendapat, mari kita diskusikan. Segala salah berasal dari saya yang masih manusia, dan segala yang benar adalah milik Allah Sang Maha segala sesuatu.
Share on:

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan tanggapan anda melalui kotak komentar di bawah ini