ANAK PERSEWAAN (BAGIAN 1: KOMIK)


Hahaha, baru mengetik judul saja, sudah terbayang kenakalan masa kecil. Betapa tidak nakal? Barang yang aku pinjam sampai ditagih ke rumah oleh abang collector.
Semua berawal dari hobi ketika masih kecil, baca buku. Di SD tempat aku belajar dahulu, terdapat perpustakaan kecil yang isinya surga dunia (bagiku ketika masih SD), banyak buku bergambar, buku cerita, dan buku pelajaran (buku yang tak pernah aku lirik sedikit pun).

Buku cerita di perpustakaan SD sudah hampir semuanya aku baca hingga akhirnya aku bosan, dan mencari bahan bacaan baru. Salah satu kakak kelas yang hobi menyewa komik memberitahuku, bahwa di tempat persewaan komik terdapat bahan bacaan yang sangat banyak. Aku yang saat itu memang sedang kelaparan akan cerita, aku minta tolong kepada kakak kelasku tersebut untuk mengantar mendaftar menjadi member di persewaan itu. Lumayan, diantar oleh kakak kelas yang cantik.

Persewaan komik tersebut terletak di Jalan Tanjung Manis, kota Madiun. Namun, sekarang sudah tidak ada lagi, dan aku lupa nama persewaan komik tersebut. Aku masih ingat delapan komik yang aku bawa pulang pertama kali, Dragon Ball, Hot Shot, dan Kenji. Hanya berbekal uang 4000 rupiah sudah bisa bawa buku sebanyak itu (2000 rupiah untuk pendaftaran, 2000 rupiah sisanya untuk pinjam komik). Setiap hari aku pinjam komik, dan setiap hari pula aku membacanya. Sang bapak yang melihatku tidak pernah belajar dan malah membaca komik, uring-uringan. Hingga akhirnya empat komik Ninja Hatori disita oleh bapak. Hatiku galau gak karuan waktu itu, di samping bapak yang marah besar karena aku tidak pernah belajar, ada tanggungan denda yang harus aku bayar. Iya, kalau komik tersebut tidak segera dikembalikan tepat pada waktunya, didenda senilai dengan jumlah hari pinjam. Seminggu setelah insiden penyitaan, komik tersebut belum kembali juga padaku. Tambah galau lagi ketika berpikir berapa denda yang harus aku bayar? Sudahlah, akhirnya aku pasrah dan melanjutkan menghafal perkalian angka satu hingga sepuluh. Sat itu aku masih kelas 4 SD, jadi harus hafal perkalian.

“Pak, saya dari persewaan komik ******, apa benar ini rumahnya Mahardika?” tanya collector komik kepada bapak. Aku tahu itu, lha wong aku habis mandi terus mau setor hafalan perkalian kepada bapak, aku langsung ngumpet.
“Iya, benar.” Jawab bapak dengan nada sinis. Kemudian berlanjut dengan pembicaraan orang dewasa. Bapak marah-marah kepada collector komik, karena komik membuat aku tidak belajar. Aku kasihan pada mas-mas yang menagih komik ke rumah.

Setelah kejadian itu, aku jadi malu untuk pinjam komik ke tempat itu. Akhirnya aku migrasi ke persewaan komik yang lain. Kotaro, Conan, dan Liberty adalah legenda persewaan komik di Madiun Kota. Kakoong adalah persewaan komik tempatku bernaung hingga aku kelas XI SMA. Karena Kakoong tutup, disusul dengan Conan. Saat ini, Kotaro dan Liberty masih berdiri dengan kokoh dengan fans setianya. Aku pun masih punya kartu anggota di ketiga persewaan komik tersebut. Ketika sudah kuliah pun, aku berharap esok akan bekerja di Madiun Kota, yang dekat dengan persewaan buku Liberty. Namun, persewaan komik saat ini sudah mulai muram, karena ada komik online yang bisa diakses di mana saja dan kapan saja. Aku pun sudah jarang pinjam komik, selain malas keluar dan enak lewat gadget, malu juga termasuk dalam faktor utama. Sudah segedhe ini, masih pinjam komik. Hehehe. Tapi, aku masih suka membaca.

Aku adalah anak persewaan, masih ada persewaan Kaset Film, persewaan Kaset Aplikasi dan Game, dan persewaan lainnya. Bagian 2: Kaset Film.
Share on:

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan tanggapan anda melalui kotak komentar di bawah ini