UNTUK TEMAN YANG SANGAT AKU SAYANGI


Untuk temanku yang sebentar lagi akan meninggalkan kota ini, dan kembali ke perantauan untuk menempuh pendidikan di tempat yang nun jauh di sana. Sejak engkau pergi belajar di negeri orang, baru kemarin aku dapat bersua denganmu, teman. Kini kau sudah beranjak dewasa, sangat berbeda dengan dirimu 1,5 tahun yang lalu. Walau masih ada sisa sikap konyolmu yang menjadi ciri khasmu. Iya, ciri khasmu yang membuatku sangat menyayangimu, temanku.


Sejenak aku lihat matamu yang berkaca-kaca saat bercerita tentang proses belajarmu di sana, namun dengan kuat engkau tepis itu semua, betapa kuat engkau saat ini. Engkau pasti telah melewati banyak rintangan hingga hatimu sekuat saat ini. Mungkin seperti perjalanan ke barat Sun Go Kong bersama gurunya menghadapi banyak siluman ganas yang siap menerkam mereka hidup-hidup. Kamu seorang wanita yang kuat, teman. Aku tahu itu. Dari sinar matamu aku tangkap betapa banyak halangan yang telah kamu hadapai untuk mencapai hasil yang sekarang. Meskipun aku tidak mengenalmu sama sekali.
Aku sangat senang sekali saat dirimu menemaniku ke toko buku. Yah, sangat senang bagi seseorang yang setiap hari hidup disekitar buku, dan kali ini ada seseorang yang menemaninya. Mungkin dirimu tidak begitu menyukai ruang kertas itu, jiwamu yang bebas mungkin sedikit terkurung dengan rak-rak buku kayu. Betapa egoisnya diriku tidak memikirkanmu, teman. Padahal saat itu dirimu ingin membeli sesuatu. Terima kasih telah menuruti keegoisanku ini untuk ikut ke surga dunia untukku.

Betapa sedih pikiranku ketika kamu bilang dalam waktu dekat ini kamu akan segera kembali ke negara yang sangat asing bagiku, yang hanya aku tahu dari film-film di salah satu channel televisi. Sempat aku khawatir saat dahulu kamu bilang akan belajar ke sana. Mungkin aku seperti seorang bapak yang terlalu khawatir ditinggal oleh anaknya. Seorang bapak akan selalu terlihat tegar di depan anaknnya, apapun yang terjadi. Karena seorang bapak tidak semudah seorang ibu yang mengungkapkan perasaannya. Sama, aku sebagai seorang teman yang akan selalu mendukungmu dimanapun kamu berada aku hanya bisa bilang “iya, hati-hati di sana”. Namun, dalam hati ini sebenarnya aku khawatir, siapa yang bakal menjagamu di sana? Siapa yang bakal mengingatkanmu di sana? Aku tidak tega untuk mengatakan itu semua. Iya, aku tidak tega.

Aku takut kamu terluka seperti beberapa tahun silam, karena lidah dan mulut ini berucap tanpa aku jaga. Namun, sekarang karena peristiwa itu, aku hingga sekarang masih belajar untuk diam, supaya tidak ada lagi orang yang terluka karena lisan yang penuh dosa ini. Setiap malam, sebelum tidur, namamu selalu ada di setiap akhir doaku. Tentulah, di awal doaku ibu, bapak dan kakakku ada di sana. Aku hanya berharap, semoga Allah melindungimu di sana, semoga Allah memberikan banyak cinta dan kasihNYA untukmu di sana, semoga Allah mengingatkanmu dan menjagamu dari segala hal yang tidak baik disana.

Temanku, mungkin kekhawatiranku tidak beralasan. Karena aku tahu, kamu adalah wanita yang kuat. Temanku, aku sangat senang ketika kamu mengingatku ketika kamu berada di sini. Itu sudah cukup, meskipun di sana kamu sibuk dengan studimu. Semangatlah teman, aku di sini selalu mendoakan yang terbaik untukmu, aku hanya bisa berdoa untukmu. Jika kau telah kembali ke tempatmu belajar, janganlah lupa untuk shalat tepat waktu. Jika kau ada waktu luang, sempatkanlah untuk membacaAl-Qur’an seperti yang kau lakukan ketika di Malang, jika tidak sempat, bacalah. Walaupun itu hanya satu ayat. Itu akan menjagamu dari keburukan disana. Jika engkau temukan masjid di sana, tolong mampirlah. Di sana banyak saudara kita. Saudara sesama muslim. Aku takut jika saudaramu yang baru lupa untuk mengingatkanmu. Aku sempat kaget ketika jam malammu berubah menjadi 22.00 WIB. Yah, memang kegiatan di sana tidak bia ditolerir, semoga kamu sehat disana. Jika akan makan baca dulu komposisinya, atau tanyakan. Banyak makanan sana yang menggunakan campuran arak. Sejak kamu bilang akan belajar di sana. Aku cari banyak artikel resmi tentang kehidupan di sana, sama saat kamu akan pergi ke Malaysia, dan saat kamu akan penelitian di pabrik kota Gresik. Naluri teman dan sebagai jiwa kebapak’an memicu perbuatan tersebut. Teman, jaga shalatmu, jaga bacaan Al-Qur’anmu, jaga pakaianmu, jaga dirimu di sana baik-baik. Semoga segala hal yang baik mengelilingimu di sana. Aamiin.

Untukmu temanku yang akan segera kembali berjuang dalam waktu dekat, dariku temanmu yang lebih kejam dari bapakmu dan lebih cerewet dari ibumu yang selalu mengharapkan yang terbaik untukmu.
Share on:

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan tanggapan anda melalui kotak komentar di bawah ini