SAKIT EPISODE 2


Berawal dari 14 April 2016 jam 14.00 WIB, perut sebelah kanan terasa nyeri. Tidak tahu mengapa, ada firasat buruk tentang hal ini, lalu cari informasi lebih lengkap lewat google. Ya Allah, setelah baca beberapa informasi, jika merasakan nyeri di bagian itu, kemungkinan besar bisa jadi sakit usus buntu, liver, batu ginjal, batu empedu, dan masih banyak dugaan yang lain. Shock memang membaca artikel di internet.
Sore jam 17.30 WIB pada hari yang sama, aku periksa di tempat praktik dokter dekat rumah. Sebelum diperiksa oleh dokter, ada seorang assisten yang menyanyakan apa keluhanku dan memeriksa tekanan darahku, dan hasilnya sangat mengejutkan. Siastole dan diastole 150 berbanding 90, tergolong hipertensi tingkat satu. Mbak yang memeriksa pun kaget juga, masih muda kok darah tinggi? Malu bukan main.
Mari tinggalkan mbak cantik yang memeriksa tekanan darahku tadi, fokus pada dokter cantik (waktu masih muda) yang memeriksa sakit apa aku ini. Setelah perutku ditempeli stetoskop, beliau hanya berujar, "mungkin ini hanya kram perut, tapi perlu observasi lebih lanjut."
Saat itulah aku mulai tambah resah, sang dokter bilang seperti itu, hanya untuk menenangkan perasaanku. Dari beliau aku hanya dapat obat asam mefenamat untuk meredakaran rasa nyeri dan obat-obat putih yang kagak tau untuk apa itu. Aku hanya berharap semoga cepat sembuh.
Jumat, 15 april 2016 aku tidak ikut shalat jumat di masjid. Yah, bagaimana mau ikut shalat jumat? Bangun dari tidur aja tidak bisa, apalagi mau koprol-koprol kayak biasanya. Saat itu, siang entah jam berapa, aku ingin minum air bening, aku harus ambil air donk. Aku gak mau ngerepotin yang ada di rumah, aku hidup aja mereka udah repot, masa aku minta tolong. Yoooosh dengan semangat membara, setelah berjalan sejauh 100cm aku terjatuh lagi. Benar-benar sakit dan tidak kuat lagi. Ahamdulillah, bapak dan ibukku yang selalu ada langsung memijat yelapak kaki, dan telapak tangan. Hingga sore aku tertidur di kamar bapak dan ibuku.
Malam hari, banyak anggota keluarga berkumpul, berdiskusi langkah selanjutnya yang harus diambil. Akhirnya, diambil kesimpulan besok pagi kembali periksa ke dokter, kemudian pijat urat di tempat ahli pijat terpercaya. Malam itu, aku tidak bisa tidur, dan kurang tidur. Entah sakit apa, perutku nyeri.
Pagi hari, pukul 06.00 WIB tanggal 16 April 2016 sebenarnya hari itu cerah dan indah, bagiku sakit. Lebih pada sakit nyeri pada perut kayak anak cewek yang lagi M. Pagi hari aku periksa kembali ke dokter, dan diberi rujukan ke rumah sakit kota di Kota Madiun. Beliau menduga bahwa aku sakit usus buntu, tapi heran karena gejalanya tidak seperti sakit usus buntu. Pulang dari dokter, beberapa jam kemudian, aku pijat urat. Berharap beliau dapat mengurangi rasa sakit yang timbul di perutku. Alhamdulillah, setelah pijat selama lebih kutang 1,5 jam nyeriku berangsur hilang hingga 70%. Seharusnya hari ini langsung ke Paviliun Merpati untuk check lebih lanjut, tapi aku memutuskan untuk menunggu sampai hari senin. Karena, selain sudah siang, siapa tahu aja berangsur sembuh. Harapan besar pada hasil pijit dari beliau, malam itu aku tidur lebih nyenyak daripada hari-hari sebelumnya.
Hari ini bingung, bagaimana mau ke Paviliun Merpati, bingung karena bagaimana berangkatnya. Akhirnya, Senin 18 April 2016 pukul 8.30 WIB berangkat ke Paviliun Merpati dengan dua motor. Aku dengan kakak keponakan, sedangkan ibuku naik motor sendirian. Kenapa gak naik mobil? Siapa yang nyupir.
Di Paviliun Merpati, setelah antri tidak begitu lama, diperiksa oleh beliau dokter Arianti. Beliau tinggi, putih, cantik dan rambutnya yang curly gantung. Hari itu beliau mengenakan baju batik berwarna hijau cerah dihiasi senyum manis khas dokter wanita yang elegan. Setelah menutup kelambu, beliau memintaku untuk telentang di kasur dan menekuk kakiku. Beliau mulai menekan-nekan perut dari yang kiri hingga kanan, sakit itu ketika perut kanan ditekan, dan beliau bilang, "dugaan saya saat ini batu empedu, semoga tidak terjadi apa-apa hanya sakit kram perut saja."
Beliau juga membesarkan hati ibuku yang saat itu duduk di sampingku mendengar keterangan dari bu dokter. Ah iya, ada kakak keponakanku di situ, tapi bukan yang mengantarku berangkat tadi. Dia bekerja di RSU Soedono Madiun, berjasa besar sekali ketika aku sedang berada lingkungan medis seperti ini. Mulai dari menunjukkan tempat periksa, tempat USG, dan tempat yang lain.
Setelah diperiksa, aku menuju ruang USG dan menunggu di sana sangat lama. Hampir 1,5 jam. Ternyata, dokter yang memeriksa via USG nanti adalah dokter Ifa/Iva (aku gak tau pakai V apa pakai F). Diperiksa menggunakan USG, diolesi gel, geli gimana rasanya. Beliau mengatakan bahwa untuk prostat, ginjal, dan beberapa organ lain sehat dan normal. Sayangnya, hati dan limpa mengalami pembengkakan. Ya Allah, apalagi ini, diagnosis yang berbeda-beda membuat takut, sebenarnya aku sakit apa. Aku bilang makasih pada beliau yang berjilbab hijau, gamis biru cantik, masih muda, dan telah meng-USG aku, kemudian aku kembali ke ruang periksa awal. Namun, bu dokter Arianti tidak ada di tempat. Akhirnya perawat yang membacakan hasilnya, dan diminta untuk check darah di laboratorium.
Di rumah, setelah aku check di Paviliun Merpati, aku mencari informasi tentang pembengkakan hati. Kaget sangat waktu membaca artikel yang membahas itu adalah awal atau gejala yang ditimbulkan oleh sakit sirosis hati, dan hepatitis B. Salah satu penyakit yang mematikan tanpa diketahui gejalanya, dan biasa disebut SILENT KILLER karena bisa membunuh secara diam-diam.
Ya Allah, tolong sembuhkanlah hambaMu yang penuh dosa ini, belum cukup bekalku untuk menghadapMu. Masih ada orang yang aku sayang untuk aku bahagiakan, masih ada orang yang aku sayang untuk aku rawat, masih ada orang yang aku sayang untuk aku dukung, mereka keluargaku. Ya Allah, sembuhkanlah aku yang penuh salah ini. Aamiin.
Share on:

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan tanggapan anda melalui kotak komentar di bawah ini