ORANG BAIK ATAU BEGO


Selama ini, aku berpikir bahwa aku berusaha menjadi orang baik. Ternyata aku sedang berusaha menjadi orang bego (berlagak goblok), eh tidak berlagak sih,  tapi emang bego (bener-bener goblok). Bagaimana tidak bego kalau kamu selalu menjaga janji yang kamu buat dan kamu yakini selama bertahun-tahun, namun orang yang diajak berjanji mengingkarinya sepanjang waktu tanpa sepengetahuanmu. Bukankah hal itu membuatmu merasa bego?
Atas nama azas kepercayaan kau memegang itu semua. Ah sudahlah, aku memang bukan orang yang baik dengan menjaga janji itu, seharusnya aku juga cerdas dengan mengingkari janji itu tanpa sepengetahuannya. Yah, mungkin statusku yang lulusan sarjana masih dipertanyakan, seorang lulusan sarjana yang masih terikat janji masa lalu. Ah, Mahar, harusnya kau juga berusaha mengingkarinya. Selasa, 4 Mei 2016. Kaget bukan main ketika kutanyakan hal "itu" pada seseorang yang kuanggap ikut bertanggung jawab pada janji yang dibuat bersama. Hasilnya tetap nihil, sesuai dugaan awal yang berpikir bahwa pasti semua sudah terlupa. Apakah jadi orang baik sekarang tidaklah dibutuhkan?
Pada garis kritis tipis sebuah keimanan, aku bertanya pada Sang Pencipta, apa aku kurang dalam menyembah-Nya? Sehingga seringkali Dia memberikan serangkaian rasa sakit, dan letanya ada pada "hati". Apakah aku kurang dalam berbuat baik? Sehingga Dia kirimkan beberapa orang "jahat" yang selalu saja membuatku sakit. Ah, Mahar, imanmu masih lemah jika mempertanyakan hal itu. Apakah itu berarti seorang Mahar dalam berbuat baik dan menyembah-Nya tidak ikhlas? Mahar ikhlas dalam hal menyembah-Nya dan berbuat baik pada semua orang, namun pikiran kotor seorang Mahar yang berada di garis kritis keimanan kadang bertanya-tanya. Kemana hasil semua hal baik yang aku lakukan? Kurangkah? Dimana imbalan ibadah yang telah dilakukan? Kurang khusyukkah? Ah, Mahar, kamu orang yang tidak bersyukur. Setiap hari kamu diberi napas, keluarga, hari cerah, kesehatan, dan banyak hal yang indah lainnya tidak terlihat. Perhatikan lebih detail untuk mensyukuri nikmatNya.
Yah, hal itu juga didapat oleh semua orang, pikirku, seorang Mahar yang tidak bersyukur. Sudahlah Mahar, jadi orang baik memang sulit, lebih sulit jika harus jadi orang baik yang tidak terlihat. Tidak usah mempertanyakan kemana semua hal yang telah kamu lakukan, termasuk ibadahmu, Tuhan telah menghitungnya, sebagai amalan yang ikhlas atau hanya amalan yang dipamerkan semata. Tetap jadi orang baik, karena mereka yang baik akan dipertemukan dengan yang baik, mereka yang tidak baik akan dihadapkan pada hal yang tidak baik pula.
Aku pun jadi bertanya, kapan? Apa harus melewati orang yang tidak baik berkali-kali terlebih dahulu, baru dapat yang baik sesuai ukuranku? Harus berapa kali ketemu yang tidak baik? Sudahlah, pasti tidak ada yang bisa menjawab.
Share on:

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan tanggapan anda melalui kotak komentar di bawah ini