TENTANG CURHAT


Aku yang terkenal gampang galau dan gampang banget terbawa perasaan (baper) tapi banyak teman yang mempercayakan rahasianya padaku. Yah, meskipun bukan dalam bentuk password / pin ATM sih, lebih spesifik pada masalah ketika mereka curhat. Yuuuups, curhat. Kadang aku pun ya bingung harus jawab gimana, toh aku ya masih seumuran mereka, mungkin hanya terpaut waktu 10 tahun paling jauh umurku dengan mereka. Aku pun sebenarnya tidak professional dalam hal ini, sekolah psikologi pun hanya sampai semester 0 (baca: tidak kuliah jurusan psikologi), mungkin wajahku yang keliatan lebih tua (hahaha) dan kelihatan garang (garang darimana?) Membuat mereka percaya saja padaku untuk menampung segala keluh dan kesah yang mereka rasakan.
Banyak hal yang sudah diceritakan, mulai dari keluarga, finansial, hubungan (yang paling sering diceritakan), sampai masalah keagamaan (manalah aku tahu banyak tentang hal ini, mondok aja kagak). Jadi, kalau masalah keagamaan yang ditanyakan, mending aku lebih banyak menghindar. Soalnya kapabilitasku dalam hal keagamaan masih kurang. Untuk hal-hal yang membutuhkan penafsiran tingkat tinggi, dan tidak boleh berpendapat asal-asalan, biasanya aku menolak menjawab. Tapi ya gitu deh, masih saja ada yang tanya.
Karena hal itu, dapat sebutan baru, Mario Tegar (plesetan dari Mario Teguh). Setegar-tegarnya aku, aku tetap rapuh jika sendiri. Hahaha. Berbagi sedikit pengalaman, biar tidak hanya aku yang diajak curhat, biar orang lain juga dicurhati. Ada beberapa tahap yang aku lakukan ketika ada orang yang curhat padaku.
Pertama, tanyakan kabar mereka,  dan tenangkan mereka terlebih dahulu. Ada banyak kalimat penenang yang lebih ampuh daripada asam mefenamat atau obat penghilang nyeri lainnya, seperti: "ada apa? Tumben kok wajahnya suntuk?", "wah, wajah ditekuk, mata bertumpuk, pasti ada masalah. Ada apa? Tidak apa kan?". Beberapa kalimat tanya tersebut lebih akrab dan mudah dipahami daripada "bagaimana kabarnya?". Pasti ada yang jawab "tidak apa-apa", jangan paksa mereka yang menjawab seperti itu, gunakan kata halus supaya mereka mau cerita, seperti "ya sudah, kalau tidak apa-apa. Tapi, semua sehat kan? Baik-baik saja?". Gunakan kata halus untuk memaksa mereka bercerita. Nanti pasti cerita, beri mereka ketenangan terlebih dahulu.
Kedua, baca (yang lewat chat), dengarkan (yang lewat pembicaraan), dan pandang (yang lewat ketemu langsung) orang yang bercerita. Mereka akan senang ketika cerita mereka di dengar. Tidak perlu menyela ketika mereka berbicara, kecuali kalau emak memanggil, atau pelayan kafe datang. Hehehe. Berikan tanggapan yang antusias dan berhubungan dengan masalah yang diceritakan, jangan sampai mengalihkan pembicaraan. Kecuali kalau ada beberapa rahasia yang ingin diungkap, gunakan trik sulap, yaitu pengalih perhatian. Ah, kapan-kapan saja dibahas. Ingat, selalu memerhatikan yang bercerita, beri waktu lebih untuk bercerita.
Ketiga, jadilah seperti mereka yang bercerita, rasakan apa yang mereka rasa, bayangkan apa yang telah mereka lakukan. Bayangkan jika kita yamg merasakannya dan mengalaminya. Pada tahap ini, adalah tahap yang tersulit. Terutama yang belum pernah mengalami. Tetapi, tetaplah berusaha unuk merasakannya. Biasanya sih, kalau aku berlagak mikir, merem-merem gak jelas. Hahaha
Keempat, berilah dia sisi positifnya, yaitu beritahu sikap-sikap dia yang benar dalam menghadapi masalah tersebut. TAPI INGAT !!! JANGAN PERNAH MEMBENARKAN PERBUATAN MEREKA YANG SALAH ATAS DASAR SOLIDARITAS. Katakan yang salah itu adalah salah, yang benar itu adalah benar. Prinsip utama dalam menjadi pendengar curhat yang baik seperti itu. JANGAN HANYA MENYENANGKAN HATI MEREKA YANG CURHAT, TAPI TUNJUKILAH MEREKA JALAN YANG BENAR.
Kelima, berilah mereka pendapatmu yang dapat membangun sikap mereka untuk menemukan solusi masalah mereka, jangan mendikte, atau menyuruh mereka untuk melakukan yang kamu mau. Walaupun ujungnya akan seperti itu. Buat mereka seperti menyadari bahwa yang akan mereka lakukan itu timbul dari hati mereka, kita hanya sebagai fasilitator saja. Katakan yang pahit itu adalah pahit, dan selingi dengan yang manis (sikap positif yang telah dilakukannya).
Keenam, bersikaplah netral. Jangan mendukung sepenuhnya yang dilakukannya. Pasti ada sisi negatif yang dilakukan. Begitu pula tentang masalah yang dihadapinya, ada sisi positif dan sisi negatif. Ungkapkan itu semua. Ingat, mereka yang curhat pada kita mungkin hanya ingin mendapat PEMBENARAN atas perbuatan yang dilakukannya. Jangan lakukan itu, bersikap netral, dan berikan masukan positif serta membangun untuk mereka. Jika salah, bilang salah. Jika benar, bilang benar.
Itu tadi beberapa kalimat tidak jelas tentang curhat. Jika ada kurangnya, mohon dimaafkan dan mari kita berdiskusi bersama. Semoga kita semua dapat menjadi pribadi yang selalu welas dan asih sesama. Aamiin.
Share on:

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan tanggapan anda melalui kotak komentar di bawah ini