SAYA RINDU

Saya pun sedikit bertanya pada saya sendiri. Apa hubungan judul dengan gambar yang saya sertakan? Apa hubungannya judul dengan gambar karpet? Yah, mungkin saya menghubungkannya terlalu jauh. Saya rindu pada karpet masjid atau mushala yang warnanya hijau, kuning, merah, atau karpet sejenis yang polos. Saya rindu berdiri berhimpitan dengan orang lain ketika membentuk saf ketika shalat. Saat ini, banyak masjid hingga mushala yang sudah semakin kekinian, menggunakan karpet yang bergambar masjid. Oke sih, memang karpet tersebut dapat memperindah masjid dan mushala. Namun, menurutku penggunaan karpet tersebut harus ditinjau ulang.

Karpet dengan gambar masjid sudah lazim digunakan di masjid sekitar rumahku, sampai mushala kecil pun tidak mau ketinggalan untuk memasang karpet tersebut supaya semakin enak dipandang. Sayang, hal tersebut banyak salah diartikan sebagai sajadah kali ya sama orang-orang. Setiap shalat jamaah, masing-masing orang menempati satu gambar masjid yang ada pada karpet. Langsung terlihat bagaimana longgarnya saf yang dibentuk oleh makmum di belakang imam. Yah, meskipun sang imam sudah memberi anjuran dengan mengucap “tolong safnya dirapatkan dan diluruskan. Karena rapat dan lurusnya saf adalah kesempurnaan dalam shalat.”, bapak imam memang bilang begitu, sayangnya “tentara” yang di belakangnya cuma mengiyakan dengan “Sami’na wa Atho’na” yang kurang lebih artinya adalah saya mendengar dan menaati, tapi tidak dilaksanakan. Gara-gara karpet tersebut saya juga pernah kena semprot bapak-bapak, karena saya mengambil tempat yang secukupnya untuk saya dan saya meminta bapak tersebut sedikit bergeser supaya bisa ditempati satu orang lagi.

Semenjak kedatangan karpet yang kekinian tersebut, saf di masjid banyak yang longgar. Mungkin masih banyak orang yang belum paham dengan maksud karpet tersebut yang salah satu kegunaannya adalah untuk memperindah tempat ibadah. Banyak yang menempati satu gambar masjid untuk satu orang, sehingga jarak antar makmum menjadi lebih longgar. Alhamdulillah, meskipun banyak yang belum tahu, yang tahu juga banyak. Di masjid yang skala besar, masih banyak makmum yang tahu bahwa merapatkan saf itu lebih penting daripada gambar yang ada pada karpet.
Beberapa contoh karpet masjid yang keren tapi bisa merapatkan saf seperti ini nih, saya ambil dari google:



Menurut saya, selain dari kita yang harus mengingatkan secara halus dan lembut, peran bapak imam juga sangat penting dalam hal ini. Tidak hanya mengucap “tolong safnya dirapatkan dan diluruskan. Karena rapat dan lurusnya saf adalah kesempurnaan dalam shalat”, tapi juga benar-benar melihat “pasukannya” apakah sudah benar dalam artian rapat dan benar dalam artian lurus. Sehingga “pasukan” di belakang imam mengerti bahwa maksud dari merapatkan saf bukanlah menempati satu gambar masjid, tapi rapat dalam arti yang sesungguhnya. Mungkin kalau saya takmir masjidnya, akan saya buat tulisan pada kertas di dinding tempat masuk masjid “Saf masih kurang rapat. Mari berbagi karpet”

Sekian atas kegalauan saya dan kerinduan saya tentang rapatnya saf di masjid tempat shalat. Jika ada pendapat yang kurang berkenan, monggo berkomentar dan kita diskusikan. Salam mantab jivva.
Share on:

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan tanggapan anda melalui kotak komentar di bawah ini