KETIKA PENYELESAIAN JANUR MELENGKUNG LEBIH SULIT DARIPADA PERSAMAAN GARIS LENGKUNG

Kelapa sing tak tandur,
Limang tahun sing kepungkur,
Uwis tukul godhonge wis dadi janur,
Janur sing semampir ana ing ngarep omahmu,
Nanging sing nyanding kowe dudu awakku,
Dudu aku.

Baru saja dengar lagu itu dari salah satu stasiun radio di Kota Madiun. Terpikir kemudian, kenapa harus janur? Kenapa tidak daun anggur? Kenapa tidak daun pisang? Toh mereka semua adalah keluarga daun. Apa tidak pilih kasih apabila janur didaulat sebagai simbol pernikahan? Bagaimana dengan bunga Raflesia yang lebih dikenal dengan bunga bangkai? Mungkin akan jadi simbol acara kematian. Tapi tidak. Ah, entah kenapa harus janur. Aku pun tidak mau tahu.


Baper juga mikirin itu lagu, kenapa harus janur dipasang di depan rumah ketika ada hajatan pernikahan? Sesuai dengan isu yang sedang merebak, tentang penistaan. Pemasangan janur di depan rumah mungkin juga termasuk penistaan pada para jomblowan yang belum menikah walaupun ingin. Mungkin para jomblowan bakal lapor ke Polda dengan berapi-api bahwa terdapat acara penistaan jomblowan. Hahaha, mana mungkin ada tanggapan, dan akhirnya mereka menyumbang lagu “Kandas” milik Bang Haji sebagai protes mereka terhadap penistaan yang dialami oleh para jomblowan.

Ah, apa sulitnya sih membina sebuah hubungan hingga jenjang pernikahan? Bukankah salah satu tujuan untuk menyelesaikan sebuah hubungan haram (baca: pacaran) dengan cara memasang janur melengkung di depan rumah? Bukankah lebih mudah daripada harus menyelesaikan persamaan garis lengkung yang lebih rumit? Harus teliti dan tepat dalam menggunakan fungsi. Mungkin persamaan garis lengkung dan gerak parabola lebih mudah aku selesaikan daripada harus menyelesaikan janur melengkung. Walaupun mereka bertiga sama-sama melengkung, janur lebih sulit untuk dilengkungkan. Ada banyak faktor untuk membuat sebuah janur melengkung. Beda dengan gerak parabola, beda juga dengan persamaan garis lengkung. Lebih mudah.

Gerak parabola dalam fisika hanya terdapat beberapa faktor untuk membentuknya, seperti kecepatan awal, dan sudut lemparan benda. Bukankah seharusnya lebih sulit membentuk gerak parabola daripada melengkungkan janur? Melengkungkan janur tidak membutuhkan kecepatan awal, tidak membutuhkan sudut yang tepat berapa derajat supaya melengkung sempurna. Dunia fisika yang idealis kalah idealis dengan yang mengharuskan cukup “mapan” untuk melengkungkan sebuah janur. Selain itu, melengkungkan janur tidak juga harus menggunakan persamaan garis lengkung, entah kenapa harus ada “persamaan derajat” untuk melengkungkan sebuah janur?

Bukankah fisika dan matematika sangat idealis dalam menentukan sebuah jawaban? Jangan-jangan mereka yang melengkungkan janur menggunakan ilmu fisika dan matematika yang sangat presisi sehingga mampu membuat lengkungan janur yang sempurna. Ah, apalah gunanya aku belajar fisika, apabila melengkungkan janur saja tidak bisa. Bukankah belajarku sia-sia? Ah iya, aku lupa. Butuh beberapa faktor yang mempengaruhi, kecepatan awal dan sudut lemparan. Mungkin benar, butuh kecepatan awal untuk melengkungkan janur. Bukankah semua diawali dengan langkah awal? Kalau hanya menunggu apakah ada hasil? Butuh pergerakan awal supaya sampai pada tujuan akhir. Mungkin perlu juga sudut lemparan awal yang tepat. Pandang tujuanmu dengan sudut yang tepat, jangan terlalu tinggi dan jangan terlalu rendah. Jika kecepatan awal dan sudut lemparan awal sudah tepat, bukankah penyelesaian janur melengkung lebih mudah? Bagaimana dengan persamaan garis lengkung? biarlah yang belajar matematika yang menyelesaikannya.
Share on:

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan tanggapan anda melalui kotak komentar di bawah ini