HARI GURU NASIONAL (HGN)



Asslamualaikum Warahmatullahi wabarakahtukh.....

Selamat hari guru untuk semua pendidik yang ada di seluruh dunia dan akhirat. Hari Guru Nasional diperingati bersamaan dengan hari lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Alhamdulillah, atas berkah Allah saya saat ini juga menyandang amanah untuk mendidik anak-anak di Indonesia (ya, walaupun tidak di seluruh Indonesia. di bagian wilayah kecil di Indonesia).

Mendidik bukanlah hal yang mudah, ternyata. Banyak sekali hambatan dalam hal mendidik, mulai dari sarana dan prasarana yang terbatas, bahan ajar yang masih kurang, sampai pada karakteristik anak didik yang beraneka ragam. untuk sarana dan prasarana, masih bisa diatasi dengan mudah menurut saya. untuk keberagaman karakteristik anak inilah yang sedikit membuat kewalahan jika belum menemukan pola yang tepat untuk mendidik. beberapa waktu yang lalu, tersiar kabar bahwa di salah satu tempat di Indonesia, di Kaliwungu Kendal, salah seorang pendidik yang sudah senior dan sepuh dikerjai oleh beberapa anak didiknya. Astaghfirullah, adab mereka terhadap guru sangat rendah sekali. tidak hanya kasus itu saja, masih banyak lagi yang menimpa pendidik lain hal-hal tersebut. Wahai pendidik, di hari guru ini semoga engkau mendapat penghargaan terbaik dari anak didikmu, bukan perlakuan tak senonoh yang ditujukan padamu.

Memeringati hari guru ini, saya ingin mengenang kembali peristiwa ketika saya belajar dulu. tapi mayoritas ingatan saya berada di SMA. Yah, katanya sih, masa paling indah adalah masa di SMA, dan betullah itu. Karena sebelum mnejadi Mahardika yang sekarang ini, waktu SD dan SMP saya sangat berbeda, gak bakal menyangka kalau SD dan SMP saya ternyata seperti itu. wehehehehe.
  • Bapak Mijo, nama beliau memang singkat, hanya "MIJO". iya, hanya itu saja. Tapi jangan salah, dengan nama yang singkat itu, beliau mengukir banyak prestasi yang tidak singkat. Mengantarkan putera dan puteri didiknya hingga tingkat Internasional. Kalau tingkat Nasional sih udah terlalu biasa buat beliau. Beliau yang mengajarkan displin, rasa hormat pada sesama, taste bercanda yang "cerdas", dan beliau juga yang menyematkan nama "Mahendra" di tengah-tengah nama saya, menjadi Mahardika Dwi "Mahendra" Setyawan. Nama ini didapat ketika study tour ke Bali, pulau Dewata. malam hari itu beliau mengetuk kamar kami, dan memanggil nama "Mahendra", padahal dalam satu bus kami, tidak ada yang bernama "Mahendra". apakah beliau mengigau? Hahahaha.
  • Ibu Sami Astuti, Beliau diapanggil dengan sebutan "Bu Sam", singkat, padat, dan jelas. Kenangan paling membekas dari beliau salah satunya adalah saya harus remidi sampai lima kali untuk materi peluang. sampai teman-teman harus remidi di rumah beliau. Saya akui, saya sangat lemah dalam materi peluang tersebut. Bu Sam, beliau adalah guru yang disiplin dan tegas, saya sangat menyukai cara mendidik beliau. Jika iya, maka iya. Jika tidak, maka tidak. Tidak boleh abu-abu atau ragu. Dari beliaulah saya belajar tentang "memegang omongan", seorang laik-laki harus dipegang dari omongannya. janji harus ditepati.
  • Bapak Imam, Beliau adalah guru yang saya idola. Jangan salah, kalau berharap beliau itu saya idolakan karena hal-hal keren seperti di cerita motivasi. Saya mengidolakan beliau adalah karena ketegasannya dalam mendidik. dalam ulangan, jika ada yang menengok sebentar saja, "SOBEK", dan mendapat nilai NOL. Beliau terkenal sebagai guru yang galak, tapi menurutsaya tidak. Beliau adalah guru yang sabar dan murah senyum sebebnarnya, apalagi kalau sedang merokok. Suka sekali memberi wejangan yang bermanfaat. Menurut saya, beliau adalah sosok yang sangat teladan, berbicara ketika hanya menurut saya yang bermanfaat, beliau jarang berbicara yang tidak bermanfaat. beliau juga yang mengantarkan KIR SMAN 5 Madiun ke kancah internasional hingga undangan ke Turki. bayangkan pemirsaaaaah, ke Turki.
  • Ibu Suharlinah, beliau juga guru fisika favorit. Beliau yang menjadi inspirasi saya menjadi seorang pendidik. Sejak kuliah awal, saya sudah diajak beliau untuk mengembangkan ilmu saya di dunia pendidikan lewat bimbingan belajar yang beliau rintis dari nol. beliau juga yang memilih saya untuk beberapa kali mengikuti olimpiade fisika dan olimpiade astronomi, dan Alhamdulillah, mendapat juara di hati beliau. alias tidak menang olimpiade. Hehehehe. Karena beliau pula saya menyukai dunia fisika. manfaat fisika sangat  banyak di dunia ini, mulai dari hal-hal sepele pasti juga ada fisikanya.
  • Ibu Nanik dan Bapak Ahmad, Beliau berdua adalah duo guru agama paling ngehits di jamannya. Bapak Ahmad bagaikan gugelnya agama waktu itu. ditanya apapun, beliau pasti menjawab, walau kadang jawaban beliau penuh dengan candaan, tapi jawaban beliau membuat kami "mikir" dan merasa "kenyang". Ibu Nanik, beliau guru agama yang cantik, anggun, jelita, perfek. hehehehe. kalau silaturahim Idul Fitri, pasti dibelikan bakso. saat ini beliau sudah menyandang gelar Doktor. cara pengajaran beliau pun waktu di SMA sangat mudah dipahami.
  • Bapak Pujo Pribadi, Beliau adalah guru yang mengampu ekstrakulikuler TEATER STANZA. Ah, saya jadi rindu masa-masa teater. berkat beliau, teater menjadi menyenangkan, berkat beliau saya yang dulunya SMP sangat pemalu, mulai berani menunjukkan diri sebagai siapa Mahardika. Bimbingan karakter yang diberikan beliau sampai saat ini masih saya ingat. hingga sekarang pun, karakter "BIMA" masih saya pegang. beranimenghadapi apapun jika itu benar, meminta maaf jika memang bersalah, dan menghormati semua guru yang membimbing saya.


Sebenarnya masih banyak lagi guru-guru yang berjasa atas terbentuknya Mahardika yang sekarang ini. namun, jika dituliskan, akan menghabiskan waktu lebih dari beberapa hari. Bagi saya, semua adalah seorang guru. Guru yang terakhir adalah guru kehidupan. Saya pernah tersentak oleh batin saya sendiri waktu itu adalah ketika masih kuliah entah semester berapa. Saat itu shalat Jumat, dan saya duduk di samping tetangga saya yang pekerjaannya sebagai pengemudi becak. Ketika saya sedang mendengarkan ceramah, lewat kotak amal di depan saya, dan langsung saya teruskan pada beliauyang di samping saya. sekilas saya lihat bahwa beliau memasukkan sejumlah uang dalam kotak amal yang ada di depannya. Sontak saya kaget dan merenungi diri pribadi. beliau yang serba kekurangan, masih mau memasukkan dalam kotak amal, saya yang saat itu masih memiliki keahlian yang lebih, malah memasukkan ke kotak amal jarang-jarang.

Sejak saat itulah, saya merasa sangat malu pada saya sendiri. betapa hina saya daripada beliau semua yang ada di situ. seorang mahar yang mampu beli buku-buku tebal setiap bulannya, mampu beli pulsa setiap butuh, mampu beli jajan sesuka hati, tapi tidak mampu memasukkan uang dalam sebuah kotak. Mari kita introspeksi diri pada kita sendiri. apa yang kurang dari kita, untuk memperbaiki kehidupan, dan akhlak kita di masa mendatang. sesuasi dengan petuah dosen saya yang jelita, Ibu Tantri Mayasari."LEBIH SULIT INTROSPEKSI KE DALAM, DARIPADA INTROSPEKSI KELUAR". Introspeksi kedalam adalah menakar kekurangan diri pribadi, Introspeksi keluar adalah menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi pada kita.
Share on:

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan tanggapan anda melalui kotak komentar di bawah ini