HOBI


Assalamualaikum Wa rahmatullah Wa Barakatuh…

Waktu saya masih kecil dulu sampai setua ini, ketika ada sebuah formulir yang harus mengisikan hobi apa yang dimiliki, hampir 99,999999999999999% saya isi dengan “membaca”. Awalnya sih bukan karena suka baca, karena bingung harus diisi apa, jadi tulis sekenanya dan yang ketika itu ada di pikiran.

Entah itu kutukan atau sebagai doa yang dikabulkan, akhirnya sejak SMA, saya jadi beneran suka membaca. Mulai dari membaca buku fiksi sekelas cerpen, sampai novel berat. Saya juga suka membaca buku yang genre non fiksi seperti sejarah, dan buku pengetahuan umum. Namun, ada buku yang paling saya sukai, yaitu adalah segala buku yang membahas tentang budaya Jawa dan seluruh hal-hal kecilnya. Mulai dari wayang, bahasa krama, ngoko, hingga permainan dan primbon tentang adat Jawa.


Hingga sekarang, alhamdulillah ada satu rak buku kecil di rumah yang isinya tidak hanya buku, tapi juga kopiah, kertas A4, F4, kertas stiker, dll. Karena kekurangan tempat untuk barang-barang remeh temeh itulah, rak buku yang seharusnya jadi rumah bagi buku, malah jadi rumah segala benda.

Saya sangat menyukai buku karena ada sensasi berbeda ketika membaca buku cetak daripada buku elektronik. Buku elektronik atau yang biasa kita sebut dengan E-Book menurut saya sangat efektif dan efisien dalam menekan penggunaan kertas. Tapi sensasi dari E-Book sangat berbeda jauh dari buku cetak. Dari buku cetak yang baru dan masih segel, ketika dibuka akan menebarkan aroma khas “buku baru”. Entah itu aroma apa, tapi rasanya sangat membuat ketagihan. Belum lagi kalau di buku cetak biasanya ada bonus kecil berupa pembatas buku. Menurut saya, buku cetak juga ramah di mata, asal dibaca di tempat yang cukup cahaya. Dengan membaca ini, saya mendapatkan banyak sekali pengetahuan baru yang sebelumnya membuat saya ragu. Salah satu hal yang baru saya ketahui adalah Beliau Ki Ageng Suryomentaram adalah salah satu tokoh di Indonesia yang bisa menjadi panutan yang baik. Buku “Psikologi Raos dalam Wayang”, banyak membahas tentang beliau, dan memang ternyata kehidupan itu haruslah dipandang dari segala sisi.

Saya sangat menyukai salah satu sudut pandang dari buku tersebut. Tahu cerita epos terbesar sepanjang abad “Ramayana” dan “Mahabarata”? salah satu yang saya sukai adalah sudut pandang dari Rahwana tersebut. Kita dicekoki dengan cerita bahwa Rahwana adalah raksasa jahat yang merebut Sinta dari pangkuan Rama. Ternyata, setelah ditelisik ulang, siapa itu Sinta, dan siapa itu Dasamuka (Rahwana), maka kita tidak akan langsung serta merta menyalahkan Rahwana menculik Sinta. Mungkin bagi yang PRO terhadap sudut pandang “Rahwana Jahat”, tentu hal ini tidak bisa diterima. Namun, jika kita lihat dari sudut pandang lain, maka kita akan lebih arif dan lebih bijaksana dalam menyikapi hal tersebut. Hal ini membuktikan, bahwa segala hal harus dipandang dari berbagai sudut pandang, jangan hanya dari salah satu sudut saja. Ketika sesuatu hal tidak baik terjadi, pasti disebabkan oleh sesuatu yang lain yang harus kita pahami.
Share on:

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan tanggapan anda melalui kotak komentar di bawah ini